Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, March 16, 2016

Masuknya Islam ke Minangkabau

Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, MA

Kedatangan Islam ke Nusantara, berdasarkan riwayat-riwayat yang dikemukakan historiografi, bahwa Islam datang ke Nusantara berasal dari Arabia pada abad pertama Hijri atau pada abad ke 7 Masehi. Para ilmuan telah menyepakati ini pada seminar yang diselenggarakan pada 1969.  Azra menulis, teori ini mematahkan teori-teori yang menyebutkan Islam datang ke Nusantara berasal dari India dan Gujarat pada abad ke-12 atau 13 Masehi. [1]

Kedatangan Islam yang langsung dari Arabia, sebagaimana diungkap Marrison membantah teori sejumlah sarjana Belanda, yang memegang keyakinan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari anak benua India dan Gujarat. Bantahan Marrison ini didasarkan kepada fakta, bahwa pada sa’at Islamisasi Samudera Pasai, yang raja pertamanya yang wafat pada 698/1297, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah 1 tahun sesudahnya Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan Muslim. Dalam pandangannya, para pedagang Arab yang dominan dalam perdagangan Barat-Timur pada abad pertama Hijri atau abad 7 Masehi, juga menyebarkan Islam pada setiap daerah yang disinggahinya yang di antaranya adalah Nusantara.[2]

Teori Islam yang datang langsung Arabia juga dipegang oleh Crawfurd, serta Niemann dan de Hollander dengan sedikit merevisi pendapat Kejzer yang mengatakan Islam Nusantara datang dari Mesir dengan alasan kesamaan mazhab fiqih. Niemann dan Hollander berpandangan dan menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan datang dari Mesir, akan tetapi dari Hadhramawt. Teori ini juga dikuatkan oleh Naquib al-Attas.[3]

Berdasarkan pandangan para sejarawan di atas, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Islam ke Nusantara adalah pada abad 7 M / 1 H yang langsung datang dari Arabia, sedangkan konversi besar-besaran penduduk Nusantara berlangsung pada abad 13 M. Sebagaimana dijelaskan oleh Azra, A.H Johns mengemukakan dengan mempertimbangkan kecilnya kemungkinan bahwa para pedagang memainkan pengaruh besar dalam penyebaran Islam, ia mengajukan bahwa para sufi pengembaralah yang terutama melakukan penyebaran Islam dan berpengaruh besar terhadap Islamisasi besar-besaran penduduk Nusantara. Faktor utama keberhasilan para sufi ini adalah kemampuan para sufi menampilkan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontiniutas, ketimbang  perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal secara radikal.  [4]

Alasan yang dipakai Johns adalah banyaknya ditemukan sumber-sumber lokal yang mengaitkan pengenalan Islam ke kawasan ini dengan guru-guru pengembara dengan karakteristik sufi yang kental. Karakteristik mereka secara rinci adalah, “ Mereka adalah para penyiar (Islam) pengembara yang berkelana di seluruh dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela hidup dalam kemiskinan; mereka sering berkaitan dengan kelompok-kelompok dagang atau kerajinan tangan , sesuai dengan tarekat yang mereka anut; mereka mengajarkan teosofi sinkretik yang kompleks, yang umumnya dikenal baik orang-orang Indonesia,  yang mereka tempatkan ke bawah (ajaran Islam), (atau) yang merupakan pengembangan dari dogma-dogma pokok Islam; mereka menguasai ilmu magis, dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan; mereka siap memelihara kontiniutas dengan masa silam, dan menggunakan istilah-istilah dan unsur-unsur kebudayaan pra Islam dalam konteks Islam”. Johns menguatkan hujjahnya bahwa tarekat sufi tidak menjadi ciri dominan dalam perkembangan dunia Muslim sampai jatuhnya Bagdad ke tangan lascar Mongolia pada 656/1257. Sebagimana juga Gibb yang mencatat bahwa setelah kejatuhan Bagdad, kaum sufi memainkan peranan  kian penting dalam memelihara keutuhan dunia Muslim  dengan menghadapi tantangan kecenderungan pengepingan kawasan-kawasan kekhalifahan ke dalam wilayah-wilayah linguistic Arab, Persia, dan Turki. Adalah pada masa ini tarekat sufi secara bertahap menjadi intitusi yang stabil dan disiplin, dan mengembangkan afiliasi dengan kelompok-kelompok dagang dan kerajinan tangan (thawa’if) , yang turut membentuk masyarakat urban. Lebih awal perkiraan ini, Bulliet menyatakan bahwa pada abad ke 10 dan 11ketika Bagdad mengalami kemerosotan, tokoh-tokoh sufi banyak melakukan perpindahan dan pengembaraan ke berbagai wilayah yang ia kenal. Hal inilah yang diistilahkannya dengan kebangkitan para ulama akan kesadaran mereka tentan krusialnya peran mereka dalam menyebarkan dan memelihara keutuhan pengaruh Islam.[5]

Hodgson menyebutkan telah terjadinya internasionalisasi “universalisasi” Islam Sunni pada pada abad ke 11. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ulama Sunni Bagdad bagian barat yang melakukan pengembaraan. Lebih mencolok katanya, di Persia dalam periode yang sama, Persia kehilangan banyak ulama Sunni. Inilah yang menyebabkan bertumbuhnya Syi’ah di Persia. Migrasi ini ikut ambil andil besar dalam proses konversi besar penduduk yang mendiami anak benua India dan Eropah Timur dan Tenggara dan Nusantara pada abad 10 dan akhir abad 13.[6]

Dalam konteks Minangkabau, kedatangan Islam diperkirakan oleh para sejarawan juga sudah berlangsung mulai pada abad ke 7 M. Kedatangan ini melalui jalur timur sumatera atau Minangkabau Timur yang terhubung dengan selat Malaka. Sementara melalui jalur pantai barat sejarawan baru memperkirakan pada abad 16/17 M walaupun dibantah oleh beberapa ahli karena tidak sesuai dengan beberapa fakta yang diungkap oleh temuan penelitian para sejarawan.

Teori jalur timur didasarkan kepada intensifnya jalur perdagangan melalui sungai-sungai yang mengalir dari gugusan bukit barisan ke selat Malaka yang dilayari oleh para pedagang termasuk pedagang Arab untuk mendapatkan komoditi lada dan emas. Intensifnya jalur dagang ini malah dipandang sudah berlangsung berabad-abad bahkan sebelum kelahiran agama Islam. Pelayaran ke selat Malaka ditempuh melalui lembah Sinamar di sekitar Buo dan Sumpur Kudus, melintasi Silukah, Durian Gadang menuju sungai Indragiri atau melintasi Padang Sarai yang terletak di jalur anak sungai Kampar Kiri. [7] Perebutan monopoli perdagangan lada antara kekhalifahan Umayyah dan Dinasti T’ang mendorong pedagang-pedagang Muslim untuk mengambil langsung komoditi lada dari wilayah Minangkabau Timur.[8] Kesimpulan masuknya Islam ke Minangkabu pada abad ke 7 M ini juga lahir pada seminar masuknya Islam ke Minangkabau yang diadakan di Padang pada tahun 1969.[9] Sumber lain menyebutkan Pada tahun 100 Hijriyah (718 Masehi) Maharaja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada Khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya. Dalam surat itu tertulis:

" Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.". (Surat Maharaja Sriwijaya, Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz)[10].

Sumber di atas menggambarkan bahwa hubungan diplomatik Nusantara dengan Dinasti Umayyah sudah terjalin mulai dari abad ke 8 M atau bahkan sudah mulai dari abad ke 7 M.
Sebagaimana ditulis Mas’ud Abidin, awal abad ke-7 M atau abad I Hijriah rantau timur Minangkabau telah menerima dakwah Islam. Bahkan J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan bahwa pada permulaan tahun 674 Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab. [11]

Sedangkan asumsi masuknya Islam ke Minangkanau melalui pesisir barat didasari oleh intensifnya kegiatan perdagangan pantai barat Sumatera pada abad 16/ 17 M sebagai akibat dari kejatuhan Malaka ke tangan Portugis. Pada masa ini pengarug kekuasaan Aceh  Darussalam (pelanjut kekuasaan Samdera Pasai) sangat besar. Intensifnya perkembangan Islam pada masa inilah dinilai oleh beberapa kajian peneliti dijadikan sebagai dasar kajian masuknya Islam ke Minangkabau yang sering dihubungkan dengan Syekh Burhanuddin Ulakan ( 1066 H/ 1646 M – 1111 H/ 1691 M ) yang merupakan murid Syekh Abdurrauf Singkel. Burhanuddin Ulakan lakan belajar di Aceh kepada Abdurrauf selama 10 tahun. [12]

Syekh Burhanuddin Ulakan meninggal + dalam usia 45 tahun dan dipandang sebagai penggagas pendidikan dengan menjadikan Surau sebagai model dan sentralya. Dalam konteks peranan Burhanuddin Ulakan sebagai pembawa agama Islam ke Minangkabau ini, melalui fakta-fakta sejarah telah dibantah oleh Mahmud Yunus. Pertama, Mahmud Yunus mengemukakan alasan bahwa sebelum belajar di Aceh kepada Abdurrauf Singkel, Burhanuddin telah terlebih dahulu belajar di kampung halamannya kepada beberapa orang guru. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sudah berkembang sebelum Burhanuddin. Fakta kedua menjelaskan bahwa ada tiga muballig Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro pergi menyiarkan Islam ke Sulawesi pada tahun 1603 M yang pada saat itu Burhanuddin belum lahir. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam sudah berkembang di Mingkabau sebelum Burhanuddin. Berdasarkan ini, Mahmud Yunus berkesimpulan bahwa Burhanuddin Ulakan bukanlah pembawa Islam pertama ke Minangkabau, namun diakuinya bahwa Burhanuddin adalah orang yang pertama mendirikan lembaga pendidikan Surau secara teratur dan tersistem sebagaimana mengikuti pola dan sistem pendidikan gurunya Abdurrauf Singkel di Aceh.[13]

Ketiga, Mahmud Yunus juga mengungkapkan tentang adanya tokoh Burhanuddin di Kuntu Kampar Kiri yang wafat pada tahun 610 H/ 1191 M yang dipandang jauh lebih awal dari pada Burhanuddin Ulakan. Menurut Mahmud Yunus, Burhanuddin Kuntu mula-mula mengajar di Batu Hampar dan menetap di sana selama 10 tahun, kemudian pindah ke Kumpulan (dekat Bonjol) dan mentap selama 5 tahun, dari Kumpulan beliau pergi ke Ulakan Pariaman dan mengajar selama 15 tahun, sampai akhirnya pergi ke Kuntu Kampar dan mengajar selama 20 tahun sampai beliau meninggal pada tahun 1191 M dan dimakamkan di Kuntu.[14] Peranan Burhanuddin Kuntu ini dalam islamisasi kerajaan Pagaruyung juga diungkap oleh Imam Maulana Abdul Manaf dalam Kitab Muballigul Islam sebagaimana dikutip Irhash Shamad.[15]



[1]  Azra, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,  (Bandung: Penerbit Mizan, Cet II, 1994)
[2] Azra, ibid., Untuk menguatkan pendapatnya, Azra mengutip tulisan T.W. Arnold, The Preaching of Islam: A. History of the Propagation of the Muslim Faith, ( London: Constable, 1913)
[3] Sebagaimana dijelaskan oleh Azra, al-Attas beralasan bahwa adanya impor batu Nissan dari Gujarat ini lebih didasarkan karena dekatnya jarak geografir kedua daerah ini lebih dekat ketimbang Arabia. Lihat Azra,
[4]. Lihat Azra, Ibid.,  dan A.H. Johns, “Sufism as a category in Indonesion Literature and History:, JSEAH, 2, II, 1961 Lihat pula H.A.R Gibb, ´An Interpretation of Islamic History II”, MW,45,II, 1955, h. 130 dan R.W. Bulliet, “Conversion to Islam and the Emergence of a muslim Society in Iran”, dalam Levtzion (penj), Conversion to Islam
[5] Ibid
[6] Lihat Azra, op.cit.,h. 35-36, dan M.G.S. Hodgson, The Venture of Islam, II Chicago: University of Chicago Press, 1974, h. 1-368.
[7] Irhash A. Shamad dan Danil M. Chaniago, Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, (Jakarta: Tintamas, 2007),
[8] Mansoer, dkk., Sejarah Minangkabau, (Jakarta: Bhratara, 1970), h. 44-45
[9] Seminar diselenggarakan atas kerjasama Center for Minangkabau  Studies, LKAAM dan BKPUI di IAIN Imam Bonjol Padang yang dihadiri oleh 268 peserta. Peserta yang hadir di antaranya Hamka, Zakiyah Darajat, Mukti Ali, Sidi Gazalba, Ibrahim Buchari, Amura, M.O Parlindungan, Alfian, Zuber Usman, Muhammad Rajab, MD. Mansoer, dll. Lihat Irhash A. Shamad , op cit., h. 26
[10] Azyumardi Azra,  Islam in the Indonesian world: an account of institutional formation. Mizan Pustaka. 2006.
[11] Ketika itu Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah menyebarkan  agama Hindu ke Nusantara dari abad ke-7 hingga ke-13 M. Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaituMalayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.  Masuknya Islam pada masa itu menimbulkan persaingan perdagangan sekaligus pengaruh untuk mengembangkan agama masing-masing. Sebagaimana pernah terjadi persaingan sengit antara angkatan Laut Sriwijaya dengan pedagang Islam di Malaka. Pedagang muslim Arab dan Parsi akhirnya menuju pesisir timur dan barat Sumatera. Kemudian akibat ‘perkawinan politik’ antara saudagar Islam dengan putri kerajaan setempat, maka terbentuklah kerajaan Islam Perlak dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah  yang menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni. Sriwijaya kembali menyerang Perlak namun kemudian dimenangkan oleh Perlak. Setelah itu Perlak dipimpin oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M). Sriwijaya kemudian berhadapan dengan Kerajaan Darma Wangsa di Pulau Jawa, setelah itu dengan Majapahit, dan Majapahit menang sejak tahun 1477 M. Seluruh Pantai Timur Minang jatuh ke tangan Majapahit sampai akhirnya Majapahit lemah setelah raja Hayam Wuruk meninggal. Semenjak itu pula kerajaan Pagarruyung diperintah oleh Adityawarman. Sementara itu tahun 1400 Malaka dan Samudera Pasai, masing-masingnya menjadi kota dagang dan kerajaan Islam. Pengaruh Islam berkembang sampai ke Pantai Barat Minang. Akan tetapi, dinamika perkembangan dakwah Islamiyah agak lamban di sana, sebab sering terjadi pertentangan mazhab Syiah dengan Sunni di Aceh dan masalah perebutan Selat Malaka. Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk Islam. Sementara Yang Dipertuan Adityawarman masih memeluk Budha. Baca, Mas’ud Abidin, Piagam Sumpah Sati Bukik Marapalam, http://www.pandaisikek.net/  , (Download tgl. 30 September 2012).
[12] Irhash A. Shamad, ibid.,
[13] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979) cet. II.,
[14] Sebagai peninggalan Burhanuddin Kuntu, didapati sampai sekarang sebuah stempel dari tembaga dengan tulisan Arab, sebelah pedang, sebuah kitab yang bernama Fathul Wahab karangan Abi Yahya Zakaria Anshari. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Ibid.,. Pada sumber lain juga dijelaskan bahwa Burhanuddin Kuntu sebagaimana hasil penelitian Darusman yang dikutip Irhash Shamad diceritakan bahwa Burhanuddin Kuntu sering mengunjungi pemuka massyarakat untuk kepentingan dakwahnya. Diceritakan juga, mula-mula Burhanuddin Kuntu menetap di rumah seorang pemuka masyarakat yang bergelar Datuk Makhudum. lihat Irhash A. Shamad, Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, op cit., Baca juga, Darusman, Syekh Burhanuddin dan Pengembangan Islam di Kuntu Kampar Kiri Abad XIII, (Skripsi), (Padang: Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN IB Padang, 1994),
                [15] Irhash Shamad, Islam.

Monday, July 1, 2013

Syria: Sejarah Penindasan yang Disembunyikan Dari Mata Dunia

Umat Islam di Syria, sebuah negara yang diperintah oleh Parti Baath yang merupakan nasionalis Arab sejak tahun 1963, telah mengalami penderitaan dan penin­dasan sejak tahun 1920-an lagi.
Syria yang memiliki 75 peratus umat Islam, 11 peratus Syiah, dan 9 peratus Kristian, memiliki sejarah Islam yang panjang dan warisan budaya yang sangat dalam. Ramai para ulama Islam lahir di bumi ini.
Syria ditakluk ketika zaman Khalifah Umar, dan kemudian diperintah oleh Umaiyyah, Abbassiyah, Seljuk dan Ayyub. Tanah Syria menjadi sebahagian daripada wilayah Turki Uthmaniyyah pada tahun 1517, dan mereka hidup dalam keadaan aman damai sehingga penggal pertama abad ke-19. Pada tahun 1831, Syria jatuh ke tangan Muhammad Ali Pasha, yang menjadi penentang kerajaan Turki Uthma­niyyah dan kemudian menubuhkan kerajaannya sendiri. Syria kemudian berada di bawah kekuasaan Turki Uthmaniyyah semula se­hinggalah ia dijajah Perancis pada tahun 1920. Penaklukan oleh Perancis telah menjadi detik permulaan kekacauan dan kezaliman ke atas rakyat Syria. Perancis telah merobek Syria dari Lubnan, yang mana Lubnan pada zaman dahulu adalah sebahagian dari Syria, kemudian ia telah dipisahkan daripadanya.


Hafez al-Assad
Polisi penindasan selama 26 tahun yang berakhir dengan ke­mer­dekaan pada tahun 1946 adalah serupa dengan apa yang dikenakan oleh Pe­rancis ke atas Algeria, Tunisia, dan banyak lagi negara-negara Islam yang lain. Rakyat Syria telah memulakan kempen me­nentang selepas penaklukan Perancis. Perancis dengan kejamnya telah membunuh puluhan ribu rakyat dan mengebom banyak bandar-bandar besar. Kebangkitan yang berlaku telah dihapuskan dengan kejam, namun Perancis menyedari bahawa hari-hari mereka berada di Syria sedang dihitung.

Perancis terpaksa berundur dari Syria selepas Perang Dunia II, dan ia akhirnya menerima kemerdekaan Syria pada tahun 1946. Namun demikian, mereka meninggalkan Syria dalam keadaan yang tidak stabil dan sering terdedah kepada konflik. Mandat Perancis yang dikenakan ke atas Syria selepas Perang Dunia I telah memberikan lebih manfaat kepada puak Syiah berbanding kumpulan-kumpulan lain (Puak Syiah percaya kepada kesucian Saidina Ali r.a. Ia hampir mirip kepada pendewaan yang dilakukan oleh orang-orang Kristian ke atas Nabi Isa a.s.). Pentadbiran Perancis telah meletakkan minoriti Syiah dalam jawatan-jawatan penting kerajaan, lalu menimbulkan rasa tidak senang kepada umat Islam dari kalangan ahli sunnah wal jama'ah. Ini seterusnya membenihkan bibit-bibit permusuhan di antara dua golongan tersebut. Ramai pakar di Timur Tengah berpendapat bahawa puak Syiah berjaya mencapai kedudukan politik dan militari yang tinggi semenjak deklarasi kemerdekaan Syria pada tahun 1946. Berikutan dengan kemerdekaan tersebut, perkara penting yang berlaku ialah puak Syiah berjaya mengambil alih pemerintahan negara dengan meminggirkan kedudukan golongan ahli sunnah wal jama'ah yang telah lama menerajui perkembangan politik dan ekonomi tanah air.

Selepas kemerdekaan, Syria menjadi sebuah negara yang sering berlaku rampasan kuasa. Mereka bermula pada tahun 1949 dan terus melakukannya sehingga tahun 1970 yang pada waktu itu dipimpin oleh diktator Hafez Al-Assad. Rejimnya telah menamatkan rampasan kuasa tetapi telah mewujudkan sebuah sistem pemerintahan yang bersifat menekan. Kerajaan Baath telah menambah lagi kesusahan kepada umat Islam Syria. Negara itu telah jatuh ke tangan puak minoriti Syiah, yang hanya terdiri daripada 11 peratus sahaja dari keseluruhan populasi. Kesemua ras-ras yang lain telah kehilangan pengaruh. Dalam masa yang singkat sahaja, rejim Assad, yang menggelarkan diri mereka sebagai "Demokrasi Rakyat Sosialis," telah mengenakan pemerintahan yang zalim di negara itu. Kesemua parti politik telah ditutup, dan sokongan terhadap pandangan parti politik lain selain dari ideologi sosialis yang disokong oleh Parti Baath diharamkan. Kesemua pergerakan Islam dihalang. Para pemimpin gerakan-gerakan tersebut telah ditangkap dan didera dengan kejam sehingga mati. Pertubuhan hak-hak asasi manusia antarabangsa telah melaporkan bagaimana umat Islam Syria dikenakan penindasan yang sangat teruk dan telah menderita sepanjang era Assad, dan bagaimana wanita Islam diperkosa dan penderaan yang tersangat zalim telah dikenakan ke atas lelaki.
Kekejaman dan Penindasan, Simbol Era Assad

Penduduk Hama, yang dikenali kerana berpegang teguh dengan Islam, telah dibunuh dengan kejam dalam satu peristiwa pembunuhan beramai-ramai selama 27 hari, yang didalangi oleh adik kepada pemimpin Syria Hafez al-Assad, iaitu Rifaat.
Matlamat utama rejim Baath adalah untuk memadamkan identiti Islam Syria. Bagi mencapai hasrat ini, berpuluh-puluh ribu umat Islam telah ditahan tanpa sebab dan kemudiannya didera. Kebanyakannya telah dikenakan hukuman, dan yang lain hilang begitu sahaja. Rejim Assad telah melakukan tindakan-tindakan seperti merogol wanita, memukul mereka sehingga mati dan menggantung mereka pada bahagian kaki. Rejim ini juga cuba untuk memusnahkan masyarakat Islam dengan menyerang rumah-rumah, masjid dan melakukan penghinaan dan kekacauan yang tidak pernah putus, dan se­sungguhnya mereka amat gembira melakukannya.
Contoh paling ngeri kebuasan rejim Assad ialah pembunuhan beramai-ramai yang dilakukan di bandar Hama. Satu-satunya sebab yang membawa kepada penghancuran bandar itu ialah pergerakan-pergerakan Islam amat berkuasa di sana. Rifaat Assad, adik kepada Hafez dan juga merupakan ketua Staf Jeneral, telah mengarahkan satu siri serangan darat dan udara ke atas bandar Hama pada satu malam Februari 1982. Majoriti askar yang enggan menurut perintah telah dibunuh serta-merta. Bandar tersebut telah musnah teruk. Kira-kira 40,000 umat Islam ke­hilangan nyawa kesan daripada kebuasan rejim Assad selama 27 hari itu.

Terdapat banyak lagi pembunuhan yang dilakukan oleh Assad selama 3 dekad sebagai seorang diktator. Ramai umat Islam Syria yang melarikan diri dari Assad masih hidup di perantauan sebagai seorang pelarian. Terdapat kira-kira 1 juta umat Islam Syria di Arab Saudi sahaja.

Di sebalik semua ini, polisi Bashar Assad, yang mengambil alih pemerintahan negara selepas kematian bapanya, telah menghantar signal yang lebih positif tentang sikapnya terhadap komuniti agama di Syria. Kami berharap signal ini akan membawa kepada satu perubahan positif dan seterusnya membolehkan Syria bebas, aman dan menjadi sebuah negara yang adil. Tiada seorang pun yang ditekan disebabkan oleh kepercayaan dan asal-usul keturunannya.

Namun demikian, kita harus ingat bahawa tiada satu pun masalah sosial di Timur Tengah dan di kawasan-kawasan Islam lain yang tidak memiliki jalan penyelesaian. Sekali pandang, memanglah masalah yang berlaku di kawasan tersebut sangat kompleks dan tidak dapat diselesaikan sama sekali. Namun demikian, jalan penye­lesaiannya di cari selama beratus-ratus tahun di tempat yang salah. Jawapan kepada permasalahan itu ialah dengan hidup berlandaskan ajaran Al-Quran yang telah Allah turunkan kepada seluruh manusia. Menjadi lemah dalam menghadapi situasi sedemikian adalah tidak patut bagi diri umat Islam. Ini kerana Allah, yang telah menciptakan segala-galanya, yang membina sebuah sistem yang membolehkan manusia hidup di dalamnya dalam aman, sejahtera dan selamat, dan telah mewahyukan semua itu kepada manusia melalui al-Quran. al-Quran telah menunjukkan kepada kita jalan yang sebenar bagi setiap perkara, seperti yang diterangkan dalam ayat berikut, "...Kami turunkan kepada kamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi Muslimin." (An-Nahl, 16:89)

Adik kepada Hafez al-Assad, Rifaat telah mengarahkan pembunuhan beramai-ramai Hama selama 27 hari yang bermula pada 2 Februari 1982. Rifaat telah diberikan kuasa sepenuhnya oleh abangnya, dan dia mengarahkan 12,000 orang askar, termasuk pasukan-pasukan khas. Satu pertiga dari bumi Hama yang diduduki seramai 350,000 orang telah dimusnahkan. Seramai 30-40,000 orang telah dibunuh dan tiada berita tentang 15,000 yang lain. Beribu orang penduduk terpaksa melarikan diri. Masjid-masjid dan bangunan bersejarah telah diruntuhkan. Kerajaan Syria telah mengambil tindakan bagi memastikan berita tentang peristiwa itu tidak sampai ke pengetahuan wartawan asing. Segala bentuk komunikasi denga bandar tersebut telah diputuskan, dan tiada siapa yang dibenarkan masuk atau keluar. Walaupun begitu, mereka tetap gagal untuk menyembunyikan pembunuhan beramai-ramai yang kejam.
Sekiranya ajaran moral terbaik yang diberitahu di dalam al-Quran dapat difahami dan seterusnya diamalkan, maka segala masalah yang sedang berlaku di dunia ini akan dapat diselesaikan dengan mudah. Memandangkan jalan penyelesaiannya adalah hidup berdasarkan ajaran al-Quran, maka mereka yang memiliki kesedaran adalah bertanggungjawab untuk menerangkan al-Quran kepada orang lain. Di dalam al-Quran, para utusan Allah telah menerangkan tanggungjawab mereka seperti berikut:
Kami hanya bertanggungjawab untuk menyampaikan dengan jelas. (Yaasin, 36:17)
Sumber: Harun yahya

Pembunuhan umat Islam di China



Kebuasan yang Disorokkan oleh kerajaan Komunis China
Spabila kita memperkatakan tentang ideologi-ideologi yang menyebarkan kesengsaraan di serata dunia, maka komunisme mendapat tempat paling atas. Dengan berdasarkan kepada idea-idea dua orang ahli falsafah Jerman, Karl Marx dan Friedrich Engels, sistem kepercayaan ini telah pun dilaksanakan oleh pemimpin-pemimpin yang kejam seperti Lenin, Stalin, dan Mao, dan seterusnya membawa kepada penyembelihan dan pembunuhan yang amat kejam sepanjang sejarah peradaban dunia.
Walaupun kita bersetuju bahawa rejim komunis telah tumbang dengan pecahnya Kesatuan Soviet, namun ideologi dan amalan komunisme sebenarnya masih terus wujud, sama ada secara terbuka mahupun sulit. Umat Islam Turki di Turkestan Timur masih terus berada di bawah penindasan Maoist Red China. Pencabulan hak asasi manusia di Turkestan Timur tidak boleh diabaikan sama sekali.

Kekejaman China di Turkestan Timur
Umat Islam Turki di Turkestan Timur yang dikenali sebagai Uighurs, telah hidup di bawah dominasi kerajaan China selama lebih kurang 250 tahun. China telah memberikan nama kepada wilayah Islam tersebut sebagai "Xinjiang" ataupun "tanah yang ditawan," dan menganggapnya sebagai tanah milik mereka sendiri. Berikutan dengan pengambilalihan China oleh komunis pada tahun 1949 oleh Mao, pe­ninda­san yang berlaku di Turkestan Timur semakin menjadi-jadi. Rejim ko­mu­­nis mula melakukan penghapusan umat Islam yang enggan untuk diasi­mi­lasikan.

Bilangan umat Is­lam yang dibunuh amat mengejutkan. Di antara tahun 1949 dan 1952, 2.8 juta umat Islam mati, sama ada dibunuh oleh tentera China ataupun mati akibat kebuluran. Di antara tahun 1952 dan 1957, lebih 3.5 juta nyawa terkorban, kemudian 6.7 juta di antara 1958 dan 1960, dan kemudian di antara tahun 1961 dan 1965 pula, seramai 13.3 juta manusia mati.

Kaum Uighurs yang berjaya hidup pula berada di dalam penindasan dan penderaan. Pemerintah Turkestan Timur terkini iaitu Isa Yusuf Alptekin, yang banyak menghabiskan umurnya dalam buangan, telah menggambarkan situasi tersebut di dalam bukunya Dogu Turkistan Davasi (Hubungan Turkestan Timur) dan juga Unutulan Vatan Dogu Turkestan (Turkestan Timur: Tanah yang Dilupakan). Berdasarkan kepada buku-buku tersebut, penindasan yang dilakukan terhadap rakyat Turkestan Timur tidak banyak bezanya dengan apa yang berlaku kepada umat Islam di Bosnia, ataupun majoriti kaum Albania oleh Serbia. "Hukuman" yang dikenakan oleh mahkamah China terhadap negara tersebut adalah terlampau kejam dan sangat tidak berperikemanusiaan. Ini termasuklah membakar manusia hidup-hidup, memukul manusia sehingga hampir mati dan kemudian membogelkan mereka dan membiarkan mati di dalam kesejukan salji. Malah ada juga yang diikat dengan lembu jantan pada kedua-dua belah kaki mereka untuk memisahkannya daripada badan.

Amalan Asimilasi yang Bertujuan Menghapuskan Budaya Secara Besar-besaran
Semenjak tahun 1949 lagi, rejim komunis telah mula merancang program penghapusan populasi umat Islam, dan telah memindahkan pendatang China ke kawasan tersebut dengan begitu sistematik sekali. Kesan daripada kempen ini yang dimulakan oleh kerajaan China pada 1953, begitu berkesan sekali. Pada tahun 1953, 75 peratus daripada keseluruhan populasi adalah umat Islam, dan hanya 6 peratus dikuasai oleh orang-orang China. Pada tahun 1982, nisbahnya telah berubah dengan menyaksikan penurunan populasi umat Islam kepada 53 peratus, manakala populasi China meningkat kepada 40 peratus. Berdasarkan bancian yang dilakukan pada 1990, populasi yang dilaporkan adalah 40 peratus umat Islam dan 53 peratus rakyat China, dengan itu telah mendedahkan dengan jelas proses pembersihan etnik yang sedang berlaku di wilayah tersebut.

Baru-baru ini, bangsa Uighurs telah ditempatkan di kawasan perkampungan, manakala orang-orang China dipindahkan ke bandar. Oleh itu, wujud beberapa buah bandar yang memiliki kira-kira 80 peratus orang-orang China. Ia bertujuan untuk menjadikan bandar yang majoritinya adalah rakyat China. Polisi kerajaan China yang menggalakkan perkahwinan campur di antara penduduk tempatan dengan orang-orang China juga menjadi sebahagian daripada polisi asimilasi tersebut.
UJIAN-UJIAN NUKLEAR KE ATAS UMAT ISLAM

Semenjak tahun 1964, China telah menjalankan 44 kali ujian nuklear ke atas Turkestan Timur yang telah mengakibatkan kematian seramai 210,000 orang dan menjadikan beribu yang lain mengalami penyakit-penyakit seperti kanser. Di samping itu, ribuan kanak-kanak telah dilahirkan cacat.
Kerajaan China turut menggunakan umat Islam Turkestan Timur sebagai bahan uji kaji program nuklearnya. Ujian tersebut bermula pada 16 Oktober 1964, dan kesannya, penduduk di kawasan tersebut telah mendapat penyakit-penyakit yang membawa maut, dan kira-kira 20,000 kanak-kanak cacat telah dilahirkan. Jumlah umat Islam yang terkorban di dalam ujian tersebut dianggarkan seramai 210,000 orang. Beribu yang lain telah mendapat kanser atau dibiarkan lumpuh.

Dari tahun 1964 sehingga kini, China telah meletupkan kira-kira 50 buah bom-bom atom dan hidrogen di Turkestan Timur. Ahli-ahli pakar dari Sweden telah mengukur gegaran yang berlaku disebabkan letupan bawah tanah pada tahun 1984 dan mencatatkan bacaan 6.8 pada skala Richter.
Punca Sebenar Kekejaman: Kebencian Terhadap Islam
Sebab utama yang membawa kepada penindasan rakyat Turkestan Timur oleh China adalah kerana mereka beragama Islam. Kerajaan komunis China melihat Islam sebagai halangan terbesar untuk mereka memantapkan penguasaan terhadap kawasan tersebut.

China telah menggunakan bermacam-macam bentuk penindasan untuk membuatkan mereka berpaling jauh dari agama. Puncak peristiwa ini berlaku ketika zaman pemerintahan diktator komunis Mao. Ketika itu, Revolusi Budaya sedang berlaku dari tahun 1966-76. Masjid-masjid diruntuhkan, ibadah secara beramai-ramai diharamkan, pengajaran Al-Quran dihalang, dan rakyat China yang berpindah dibenarkan untuk mengganggu umat Islam. Sekolah-sekolah digunakan untuk menyebarkan propaganda atheis. Segala bentuk komunikasi dikawal untuk membuatkan manusia lari dari agama. Mereka telah dilarang untuk mendengar ceramah-ceramah agama yang menyentuh tentang keimanan, dan pemimpin agama pula dilarang mengajar tentangnya. Namun demikian, di sebalik segala penindasan yang dilakukan, mereka masih berpegang teguh kepada tali Islam.21 

Salah satu cara ugutan dan tekanan yang dilakukan masih terus dilaksanakan di institusi-institusi pendidikan. Pendidikan universiti di kawasan tersebut telah diberikan kepada rakyat China, dan umat Islam yang belajar di universiti-universiti tersebut hanya membentuk 20 peratus sahaja daripada keseluruhan jumlah pelajar. Kemelesetan ekonomi turut menjadi faktor halangan yang membawa kepada rendahnya tahap pendidikan yang diterima oleh umat Islam di situ. Sekolah-sekolah yang diajar dalam bahasa China menikmati kemudahan-kemudahan yang canggih. Sebaliknya sekolah-sekolah Uighur berada dalam keadaan serba kekurangan. Pendidikan yang kononnya dianggap bersifat keagamaan yang diajar di sekolah-sekolah sebenarnya didirikan di atas fahaman ateisme.

Peristiwa penukaran abjad sebanyak 4 kali dalam tempoh 30 tahun merupakan sebahagian daripada polisi asimilasi yang ditujukan kepada umat Islam di sana. Meskipun Revolusi Budaya sedang berlaku, Mao tetap tidak mengubah skrip abjad China. Namun Mao menukar abjad Uighur daripada abjad Roman kepada abjad Cyrillic jenis Rusia. Selepas abjad itu digunakan buat beberapa ketika, ia ditukar semula kepada abjad Roman. Walau bagaimanapun, selepas itu ia ditukar menjadi skrip Arab untuk menghalang dari terbentuknya jambatan budaya dengan Turki. Kesannya, generasi-generasi di situ sukar untuk memahami di antara satu sama lain yang mana abjad mereka telah diubah berkali-kali.

Peranan Komunis China yang Anti-Islam di Timur Jauh
Penindasan berdarah yang dikenakan ke atas umat Islam Uighur Turki di Turkestan Timur masih belum reda sehingga kini. China telah menangkap golongan muda Uighur Turki yang menyuarakan penentangan mereka, dengan alasan mereka adalah musuh yang berpotensi di masa hadapan. Untuk melepaskan diri dari penganiayaan tersebut golongan muda telah melarikan diri ke gunung-gunung ataupun ke padang pasir.
Semenjak tahun 1996, berpuluh ribu remaja Uighur Turki telah ditahan di kem-kem yang mana di situ mereka telah dikenakan bermacam-macam jenis penderaan. Sebuah pertubuhan hak asasi manusia antarabangsa telah melaporkan di dalam laporan rasminya bahawa para suspek telah dibawa ke khalayak ramai, dan mereka sama ada dikenakan hukuman berkerja berat ataupun dibunuh oleh skuad penembak di hadapan masyarakat awam. Mahkamah-mahkamah beroperasi di bawah arahan Parti Komunis. Mungkin apa yang lebih dahsyat ialah wanita-wanita mengandung dibawa lari dari rumah mereka. Selanjutnya kandungan mereka digugurkan secara paksa dengan menggunakan teknik yang tidak selamat. Manakala kanak-kanak yang dilahirkan melepasi kuota kerajaan dibunuh, dan harapan keluarga mereka tidak didengari dan dihiraukan.
DIDERA DI TANAH MEREKA SENDIRI


Selepas tahun 1949, rejim komunis Mao telah membunuh kira-kira 35 juta orang Uighur Turki. Sebilangan umat Islam telah dibakar hidup-hidup atau dipukul hampir mati dan kemudian diseret dan dibiarkan mati dalam salji. Yang lain diikat kepada lembu-lembu jantan dan kemudian anggota-anggota badan mereka diceraikan apabila lembu-lembu jantan itu bergerak pada arah yang berlainan. Tiada seorangpun yang dibenarkan untuk mengamalkan agama dengan bebas.
Hari ini, Red China masih mengikut dasar polisi Mao dan melakukan kekejaman yang sama. Tiada sebarang pertubuhan hak-hak asasi manusia yang dibenarkan hidup di Turkestan Timur. Kawalan komunikasi pula terletak sepenuhnya di dalam tangan China. Akibatnya umat Islam menderita teruk.
Dalam masa 2 tahun sahaja, iaitu dari 1995-1997, lebih dari 500,000 Uighur Turki telah ditahan tanpa sebab oleh pihak berkuasa China.
Sepanjang tempoh waktu yang sama juga, lebih dari 5,000 mati akibat penderaan oleh China, ataupun hilang begitu sahaja.
Peristiwa yang berlaku pada bulan Februari 1997 telah menambahkan lagi bilangan kezaliman yang dilakukan oleh kerajaan China. Pada satu malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan tahun itu, yang berlaku pada 4 Februari, lebih daripada 30 orang wanita yang pergi ke masjid untuk menyambut malam yang amat bermakna kepada umat Islam itu, telah dibelasah sewaktu mereka sedang membaca Al-Quran, dipukul oleh ahli-ahli militia China dan kemudian diseret ke ibu pejabat keselamatan. Penduduk tempatan telah pergi ke ibu pejabat dan merayu supaya wanita-wanita tersebut dibebaskan. Namun demikian, mayat tiga orang wanita yang mati akibat diseksa telah dilemparkan kepada mereka yang datang merayu itu. Kemudian, terjadilah pergaduhan di antara penduduk tempatan dengan orang-orang China. Kira-kira 200 orang penduduk asal Turkestan Timur kehilangan nyawa di antara 4 dan 7 Februari, dan lebih 3,500 yang lain telah dipenjarakan di kem-kem. Pada pagi 8 Februari pula, penduduk yang berkumpul di masjid telah dihalang dari mengerjakan solat oleh pasukan keselamatan. Pergaduhan tercetus lagi, dan akibatnya bilangan mereka yang ditahan iaitu seramai 58,000 orang pada April-May 1996, tiba-tiba melonjak melebihi 70,000 orang. Kira-kira 100 orang penduduk yang masih muda telah dihukum mati secara terbuka. Manakala 5,000 orang Uighur Turki telah ditelanjangkan dan dipamerkan untuk tontonan umum di dalam kumpulan-kumpulan yang setiap satunya seramai kira-kira 50 orang.

Setelah mengetahui semua ini, maka kita patut memberi perhatian kerana rakyat Turkestan Timur masih tidak menerima sebarang sokongan daripada Barat sepertimana yang diharap-harapkan.




Kekejaman yang dikenakan oleh komunis China ke atas Uighur Turki di Turkestan Timur masih berlaku sehingga kini, dan ia akan terus berlaku selagi falsafah Darwin-materialis yang menjadi dalang di sebaliknya tidak dihapuskan dengan perkembangan saintifik. Tidak cukup dengan hanya membaca polisi-polisi yang tidak berperikemanusiaan di dada-dada akhbar, melihat gambar-gambar mangsa kekejaman, dan kemudian mengeluh. Langkah-langkah saintifik dan kebudayaan mesti diambil bagi menghancurkan ideologi yang membawa kepada penindasan itu, dan setiap mereka yang beriman mesti mengambil posisi masing-masing bagi melakukan perang intelektual.
Definisi rasmi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) tentang genocide sudah tepat terhadap apa yang sedang berlaku di Turkestan Timur yang dijajah oleh China itu. Namun, rakyat Turkestan Timur masih tidak mendapat sebarang perlindungan dari PBB. Kira-kira 25 juta umat Islam Turkestan Timur masih menderita disebabkan oleh penindasan China, dan dunia menutup mata atau terus memalingkan muka terhadap kekejaman ini. Terdapat beribu-ribu tahanan politik, dan banyak di antara mereka yang sudah "lenyap" dari penjara. Penderaan ke atas tahanan sudah menjadi satu perkara rutin.
Untuk menamatkan penganiayan di Timur Tengah, pertama sekali dunia mesti diberitahu tentang syarat-syarat perjanjian yang tidak menentu yang sedang berlaku di situ, dan kemudian sekatan antarabangsa mesti dikenakan supaya China dapat merasakan bahangnya. China sedang melakukan pembunuhan beramai-ramai secara tersembunyi, dan rakyat Turkestan Timur yang ditindas kehilangan cara untuk membolehkan suara mereka didengari. Masyarakat dunia mesti bertindak secara bersama terhadap perkara yang perlu diberi perhatian penting ini.
Harus diingat bahawa punca kekejaman dan penganiayaan di Turkestan Timur terletak pada falsafah Komunis China yang bencikan agama. Perang yang tidak berperikemanusiaan yang dilancarkan terhadap manusia yang tidak berdaya adalah kesan daripada pemikiran materialistik dan komunis yang bersifat ateis. Para pemimpin komunis yang kejam sewaktu abad ke-20 telah me­ninggalkan suatu ideologi pembunuh dan kesannya berjuta nyawa terkorban. Turkestan Timur adalah contohnya. Satu-satunya cara yang boleh dilakukan untuk menyekat mimpi ngeri ini dari terus menghantui manusia adalah dengan melancarkan peperangan ideologi untuk menentang ideologi-ideologi atheis seperti komunisme. Penghapusan asas-asas ideologi komunis adalan langkah pertama untuk menamatkan penindasan komunis di muka bumi.
Seperti yang telah ditegaskan di awal bab buku ini, asas kepada komunisme ialah Darwinisme. Karl Marx, iaitu pengasas komunisme telah mendedikasikan bukunya Das Kapital kepada Darwin, iaitu seorang tokoh yang amat beliau sanjungi. Di dalam bukunya yang bertajuk Ever Since Darwin, seorang saintis pro-Marxis-evolusinis yang terkenal telah menulis:

...Marx dan Darwin adalah secocok, dan Marx memuja Darwin setinggi-tingginya... Darwin sesungguhnya seorang pejuang revolusi yang berhemah.22
Pemimpin komunis China, Mao telah berkata menerusi satu ucapannya, "Sosialisme China dibina dengan berasaskan Darwin dan teori evolusi," maka dengan itu jelaslah dari mana beliau mendapat inspirasi terhadap kekejaman yang dilakukannya.23
Himpunan kenyataan ini yang telah mendedahkan asal-usul Marxisme dengan jelas memberitahu kita bahawa Darwinisme merupakan ideologi yang berselindung di sebalik praktis-praktis kejam yang dilaksanakan beberapa tahun dahulu di negara-negara seperti Rusia dan China, dan yang mana sehingga kini ia masih dilakukan terhadap orang-orang Chechen dan umat Islam di Turkestan Timur. (Untuk mengetahui lebih lanjut tentang saintifik Darwinisme dan kejatuhan ideologinya, rujuk bahagian apendiks tentang penipuan evolusi.)
Sumber: Harun Yahya

Monday, December 17, 2012

Majalah Ahkam Johor: Johor dan Kerajaan Uthmaniyah

Johor diperintah menggunakan Sistem Khalifah, bukan sistem "British" seperti yg di gambarkan buku teks..



Bendera Khalifah Othmaniah




Bendera Khalifah Johor (bendera sultan)


Ramai yangg tidak mengetahuiakan kewujudan Majallah Al Ahkam Johor, dari tahun 1893 sehingga tahun 1914.. sets of written law, yang berlandaskan hukum Syariah seperti Majallah Al Ahkam Al Adliyah, yang digunakan Khalifah Othmaniah Turki...




Salinan "Majallah Al Ahkam Johor" terdapat di Library Petaling Jaya and National Library KL..




Raja Ali Kelana of Johor


Kaitan Johor dgn Khalifah Turki
Johor diperintah menggunakan Sistem Khalifah, bukan sistem "British" seperti yg di gambarkan buku teks..

Ramai yang tidak mengetahui kewujudan Majallah Al Ahkam Johor, dari tahun 1893 sehingga tahun 1914.. sets of written law, yang berlandaskan hukum Syariah seperti Majallah Al Ahkam Al Adliyah, yang digunakan Khalifah Othmaniah Turki...

- Sultan Albert Baker pernah melawat Khalifah pada tahun 1866, 1879 dan 1893
- Khalifah menghadiahkan 2 orang wanita Turki kepada Sultan Johor = Khadijah Hanim dan Ruqayyah Hanim.. dan dikahwinkan dgn Sultan Albert Baker dan Sultan Ibrahim utk menyambungkan Nasab keturunan mereka setaraf dengan Khalifah Turki
- 1894, Kapal Perang Attughrul dari Turki mendarat di Istana Besar
- Seruan dan doa utk Raja2 pertama kali dignakan apda tahun 1895 mengikut adat dan amalan Khalifah Turki = seterusnya ditiru oleh negeri lain sehingga kini
- 1904 - Pegawai Khalifah Uthmaniah diberikan bintang kebesara kerajaan Johor
- Raja Ali Kelana dari Riau di lantik menjadi Sheikh Al Islam, satu jawatan yg lebih tinggi dari Mufti Kerajaan seperti yang digunakan oleh Khalifah Turki = beliau Meninggal dunia di Johor Bahru pada tahun 1927
- Raja Ali Kelana dihantar ke Turki untuk mendalami undang2 mualamalat dan shariah pada tahun 1883, 1895, 1899 dan 1913
- Syed Hasan dan Syed Abu Bakar Al Attas dan 4 orang pegawai kerajaan dihantar menghadiri persidangan khalifah 1926 sebagai wakil Sultan Johor

- Penubuhan sekolah agama kerajaan Johor diguna pakai dari Maktab Uthmani di Turki
- Kitab2 rujukan mcm Muttaal Badrain yg digunakan oleh sekolah agama Johor adalah ditranslate dari syllibus Maktab Uthmani Turki




Ini adalah lambang darjah kebesaran Khalifah Othmaniah yg digunakan oleh turki..

Lihat persamaan dgn yang ni :




Darjah kebesaran Johor


Kaitan "Sultan"

- Kite diwar-warkan yang Sultan Ibrahim diberikan gelaran "Sultan" oleh Queen Victoria... fikir semula ; seorang wanita kristian memberi gelaran 'sultan' kepada raja islam??

wrong... British cube memusingkan Fakta disini ;- kerana... Anugerah gelaran "Sultan" adalah pemberian Khalifah Uthmaniah semasa lawatan baginda ke Turki pada tahun 1866..

Lihat sejarah :

- Dalam Buku "Hikayat Hang Tuah".. Sultan Melaka.. Muzaffar Shah ade menghantar Hang Tuah ke Turki untuk mendapat 'recognition' dari Khalifah utk memakai title SULTAN..
- Sama juga seperti Pasai dan Sultan Acheh Iskandar Alam = semua mengadap Khalifah utk mendapat 'recognition' memakai gelaran Sultan.. Johor pun buat mcm tu pada tahun 1866..

Ahkam Shariah Johor

We knew that Johor become successfully independent sejak tahun 1855.. tapi.. ape sistem kehakiman yang digunakan??? British?? tak mungkin, sebab.. british cume datang pada tahun 1914..

That is the clue.. Undang2 Adat dan Shariah Majallah Ahkam Johor..

Semasa Undang2 shariah ini dijalankan - semua Peguam, persuruhjaya Polis, pegawai dan kakitangannya terdiri daripada Ulamak dan orang Islam SAHAJA.. sebab tu, ramai Melayu yang kerja dgn kerajaan zaman tu di Johor..

Dalam Hikayat Johor.. Hakim2 dan Kadi2 diberi kuasa menghukum pegawai kerajaan yg tak sembahyang Jumaat.. begitu jugak yang berjudi dan minum arak di Kasino Wong Ah Fook.. yg diberi kuasa utk melapurkan kepada Kadi2 jika terdapat orang islam dalam premisnya berjudi dan minum arak..

Undang2 Tubuh Negeri Johor

Undang2 negeri ini di sedia kan oleh Rodyk & Davidson.. firma guaman British yg berkerja dgn Sultan Johor. The funny thing is.. firma guaman ini menggunakan set undang2 yang digunakan oleh Kesultanan Lama Riau dan Acheh.. dalam buku Thammarat Al Muhimmah..

Dengan tertubuhnya undang2 ini pada tahun 1895.. secara rasmi Agama Islam menjadi agama negeri.. DAN... undang2 ini TIDAK BOLEH DIGUBAL, DIUBAH, DIPINDA, DIHAPUSKAN selagi ade bulan dan bintang..

Now...

- British source tak pernah sentuh sikit pun pasal hubungan Khalifah Turki dgn Kerajaan Johor..
- Undang2 Malaysia, di guna pakai cara Inggeris kerana 'anggapan' bahawa tiada undang2 yang diguna pakai sebelum Merdeka kecuali undang2 adat... so, klu ade orang expose yg ade undang2 yg berjaya terlaksana dgn tatacara yang baik dan teratur.. tentu undang2 malaysia sekarang tidak seperti ini.. again, takde siape dalam cabinet Tun Abd. Rahman yg bercakap tentang fakta ini..

Menteri Pendidikan, cepat! tulis balik buku teks tu!

Sunday, November 27, 2011

Masjid Lala Tulip di Ufa (Rusia)

Pada akhir XVIII abad Maharani Catherine II mengeluarkan perintah untuk membentuk Perhimpunan Spiritual Ufa beragama Islam Undang-Undang, yang diketuai oleh Mufti. Sejak itu, Ufa menjadi pusat Islam Rusia. Pada tahun 1998, salah satu masjid yang paling luar biasa dan indah, Lala-Tulip telah dibina di Ufa. Hari ini kita akan melihat akan dari dalam dan di luar, bercakap mengenai pusat budaya dan agama ini, dan melihat pemandangan dari satu menara masjid.



Kemunculan masjid agak luar biasa. Ia adalah moden dan pada masa yang sama maksud jelas difahami. 


Orang ceria dan berwibawa tinggal dan bekerja di sini. 


Masjid ini bukan sahaja sebuah rumah doa. Ini adalah benar-benar seluruh pusat: institusi pendidikan dengan asrama sendiri, sebuah kuil Islam, tempat untuk perhimpunan pemimpin-pemimpin Islam agama, perpustakaan dan bilik persidangan. Secara keseluruhan, masjid boleh menampung kira-kira seribu orang-orang yang beriman.


Walau bagaimanapun, bukan sahaja umat Islam sentiasa dialu-alukan di sini. Semua yang anda perlu lakukan adalah untuk menghormati tradisi mereka, menanggalkan kasut anda dan anda boleh memasuki.


Kawasan pedalaman yang lebih tradisional, sekurang-kurangnya extravagances. Tiada apa-apa jua harus mengalihkan perhatian daripada solat, itulah sebabnya mengapa lelaki dan wanita berdoa secara berasingan.


Wahai orang-orang yang beriman memasuki masjid berkaki ayam, ini adalah kebersihan yang rendah. Mereka berlutut di atas lantai, kepala dan muka busur permaidani.


Pada tahun 1773, Catherine II meluluskan undang-undang toleransi agama. Beliau membandingkan dirinya dengan Tuhan yang bertolak ansur untuk pelbagai bahasa, agama dan bangsa.


Kali ini telah bermasalah. Pugachev dan pemberontak menganjurkan kebangkitan. Atas sebab ini, beberapa dekri yang memerlukan pihak berkuasa tempatan untuk menggabungkan kepentingan negeri dan toleransi agama yang telah dikeluarkan.


Semua masjid ennobled, dan dikelilingi oleh pagar. Sekolah telah dibuka berhampiran masjid. 


Jadi Ufa menjadi pusat kehidupan Islam di Rusia. Dan kini Ufa kerusi pemimpin Islam rohani Rusia dan negara-negara Eropah CIS.


Institusi yang dicipta oleh perintah Catherine adalah unik. Islam yang biasa tidak memerlukan organisasi yang berpusat, dia berdoa kepada Allah, dan jika ada sesuatu yang tidak jelas, Mullah akan jelaskan. Tetapi ia sangat berguna untuk negara yang mengawal kehidupan sosial umat Islam Rusia melalui pihak berkuasa rohani.


Soalan yang paling kerap ialah mengapa pusat Rusia Islam di Ufa, bukan di Kazan. Jawapannya adalah jelas, Kazan telah ditawan dan Ortodoksi telah merebak di sini dengan menggunakan kekerasan. Dan Bashkortostan secara sukarela menyertai Empayar Rusia dan dari segi keselamatan awam, untuk memberi kuasa kepada Ufa merupakan penyelesaian yang paling logik.


Mari kita kembali ke zaman moden. Sekarang mana-mana Muslim boleh datang dalam Lala-Tulip untuk mendapatkan nasihat atau penjelasan. Masjid mempunyai kursus khas di mana sesiapa sahaja boleh mendapatkan pemahaman awal Al-Quran dan asas-asas Islam.


Tempat untuk mesyuarat, persidangan dan kongres. 


Setiap tahun kira-kira satu kajian ratus orang di Institut Islam. 


Walaupun persepsi umum keterukan Islam, ia tidak begitu. Sebagai contoh, umat Islam secara rasminya boleh mendapatkan perceraian, dan inisiatif boleh datang daripada kedua-dua lelaki dan seorang wanita.


Dua menara mempunyai bentuk tunas bunga tulip, yang sejak zaman dahulu kala adalah simbol orang-orang Turki. 





Masjid ini berdiri di atas bukit, hutan dan sungai di satu pihak, bandar di pihak yang lain. 







Well, abstrak daripada agama-agama dan melihat keindahan. Taman Victory dengan peringatan dan muzium kemuliaan ketenteraan terletak di utara. Suatu tempat di kaki langit terdapat kilang-kilang penapis minyak dan stesen janakuasa haba.



Rumah kuning mula-mula bangunan lima tingkat Stalin. 



Biathlon sukan dan rekreasi yang kompleks