Thursday, September 8, 2016

Sudah solat asar ke ?

Seorang suami bertanya pada isterinya : " Sudah solat asar ke ?
"belum, jawab isterinya ringkas.
Suami bertanya lagi : " kenapa belum solat ?"
Lalu isterinya menjawab : " saya baru sahaja balik, badan letih sekali dan saya tertidur tadi "...
suaminya menjawab : " baiklah ... bangun dan solatlah asar dan maghrib sekaligus, sebentar lagi sudah masuk waktu isyak ".

Pada keesokan harinya suami pergi untuk bertugas ke Singapura... seperti biasa seharusnya si suami akan menelefon isterinya bila telah tiba dengan selamat di tempat kerjanya . Si isteri menunggu berjam-jam telefon dari suaminya namun si suami tak juga menghubunginya... SMS atau whatapp singkat pun tidak ada ...si isteripun mulai cemas, ini bukan kebiasaan suaminya ... ia mula membuat macam2 andaian dan amat risau dengan keselamatan si suami ... berkali2 ia mencuba menghubungi HP suaminya ... terhubung tapi tidak diangkat.

Setelah beberapa jam akhirnya si suami mengangkat HP nya ... terketar-ketar si isteri bertanya : " suamiku apakah engkau telah tiba dengan selamat ? " ....

" Ya, alhamdulillah '' jawab suami ringkas ...
" bila sampainya ? " si isteri bertanya lagi ...
si suami menjawab ; " saya sampai kira-kira 4 jam yang lalu " ...
dengan nada marah si isteri berkata lagi : " 4 jam yang lalu dan tidak menghubungi aku ?? " ....
masih dengan nada malas si suami menjawab : " aku merasa letih sekali dan aku tertidur sebentar " ....

si isteri bertanya lagi : " berapa minit sangat, kalau hendak telefonku ??? cuma sekejap call pun tidak boleh ke ??? apa tidak kedengaran bunyi HP mu waktu tadi aku menghubungi berkali2 ?? " ....

" ya ... aku dengar " jawab suami ...
.
dengan suara sedih si isteri berkata ; " kenapa macam itu .. apa sudah tidak sayang padaku lagi ?? " ...

si suami menjawab : " aku amat sayang padamu ... tapi kelmarin mengapa engkau tidak menyahuti seruan azan asar dan bersegera solat, bukankah solat itu hanya sebentar, bagaimana nanti aku bila ditanya ALLAH tentang perbuatanmu itu ... apakah engkau sudah tidak sayang padaku ? " ....

si isteri terdiam kaku dengan jawapan si suami, lantas berkata : " engkau benar suamiku ... aku mohon maaf ... aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi " ...

sejak saat itu si isteri tidak pernah lagi melewat-lewatkan waktu solat bila telah tiba waktunya ....

"Sesungguhnya... orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang mendorongmu ke cahaya bila kegelapan menyeliputi hatimu , agar mampu berjalan bersamanya di jalannya ALLAH..ia akan terus menyokongmu agar engkau tidak berpaling ataupun mundur ke belakang.."

Semoga agama semarak di dalam hati kita dan bimbinglah keluarga kita dengan izinmu ya Allah...dan semoga kita semua diberikan Hidayah dan taufiq-MU.... Aamiin....Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin...
#CopynPaste #Share

Monday, July 18, 2016

Buat duit dengan Clixsense tanpa modal sesen pun

Hi Semua.Saya just nak share pengalaman buat duit online dengan menjawab survey dan affiliate marketing. Saya menceburi dunia buat duit online hujung tahun tahun 2012. mula2 blur camna orang bole dapat duit di internet..Macam tak caya je..betul ke jawab survey atau kaji selidik kita boleh dapat duit,klik iklan pun boleh dapat duit...dulu tak caya langsung tapi bila 1st time dapat duit online gembiranya hati..

1st site .... (Survey Online,Klik Iklan&buat task)
Tengok iklan pun dapat duit....hehe....



2 tahun saya join terasa lambat nak dapat duit.  Susahnya jangan cakap la memang sabar je dengan site ni..mula2 rasa give up,putus asa,tak percaya tapi still klik iklan dan jawab survey....

Tahun 2013 tak layak keluarkan duit pun sebab mula give up tapi sekali2 buat..
Tahun 2014 saya mula faham dalam menjana duit online di site ni.rezeki pun murah survey pun dapat banyak,so tahun tu dapat la 280Usd bersamaan Rm1008 (currency masa ni Rm3.6)
Tahun 2015 saya dapat 650Usd tanpa keluarkan modal 1sen pun bersamaan Rm2353 (Currency Usd to myr Rm3.9)
Tahun 2016 dah dapat 300usd baru 4 bulan bersamaan Rm1200(currency Usd ke Rm 4) alhamdulillah...
Yang best join site ni duit dibayar dalam USD..masuk ke akaun paypal dan dari akaun paypal kita boleh keluarkan duit ke akaun bank di malaysia ni.
Total dari site ni je Rm 4561 tanpa modal 1 sen pun.


Jom Daftar site yang menjana duit online di sini . 
Daftar percuma tanpa modal. Jawab survey,klik iklan, buat offer,buat task... 

Site lain yang menjana income adalah di sini...
Clixsense

Mula join pada tahun 2013, syarikat dari china yang menawarkan kaji selidik untuk mengetahui kehendak pelanggan..
Bezanya kat sini adalah site ni membayar dalam Rm dan ditukarkan ke dalam Usd di paypal then dari paypal baru bole keluarkan duit ke dalam mana-mana bank di malaysia ni.
ni earning sehingga hari ini 10/5/2016
1 point bersamaan dengan Rm 0.01 so saya dah kumpul Rm 4101.47 sepanjang join site di sini

Sunday, May 15, 2016

Dr Mahathir Mohamad Minta Sunni bertoleransi dengan Syiah

PREVIOUS_BROADCAST

Rabu, 16 September 2015 03:13

Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, meminta majoriti Sunni di Malaysia untuk menerima Syiah sebagai sesama Muslim dan dengan demikian, dapat menghindari konflik sektarian yang telah memecah masyarakat di Timur Tengah.

Menurut laporan IRNA, dalam pidato pada Selasa (15/9/2015) malam di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Isma di Shah Alam, Mahathir mengingatkan bahwa setiap individu yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia adalah seorang Muslim.

“Seseorang menjadi Muslim segera setelah ia bersaksi bahwa Allah adalah satu dan Muhammad adalah utusan-Nya. Sunni dan Syiah sama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat,” tambahnya.

Dia mencatat bahwa Malaysia dengan majotiti Sunni terbebas dari perselisihan sektarian untuk waktu yang lama. Namun dia mengatakan situasi di negara ini telah berubah dalam beberapa tahun terakhir dengan kehadiran ekspatriat dari negara dengan mayoritas Syiah, seperti Iran.

Mahathir mengakui bahwa masih ada perdamaian di antara umat Islam di Malaysia, setidaknya dibandingkan dengan situasi daerah tertentu di Timur Tengah, dan ia mendesak untuk melestarikan perdamaian melalui toleransi dan menerima pandangan yang berbeda.

"Kita tidak punya hak untuk mengatakan seseorang bukan Muslim hanya kerana ia tidak terlihat seperti kita atau tidak berpakaian seperti kita," tegasnya.

Menyoroti pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni di dunia Muslim, Mahathir menegaskan bahwa mereka secara praktis memenuhi tujuan dari Zionis dan Amerika Syarikat.

"Zionis dan Amerika adalah orang-orang yang gembira atas perselisihan itu," katanya. (IRIB Indonesia/RM).

Nota: Berhati-hatilah kalian apabila didatangi oleh golongan Syiah yang mengatakan bahawa mereka pencinta Ahlul Bait dan cuba mengajak kalian untuk beriman dengan akidah Syiah. Kalian perlulah menasihati mereka supaya kembali kepada al-Quran dan as-Sunah dan bertaubat kepada Allah SWT kerana telah jelas bahawa ajaran Syiah bukan daripada ajaran Islam yang sebenarnya

Wednesday, March 16, 2016

Masuknya Islam ke Minangkabau

Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, MA

Kedatangan Islam ke Nusantara, berdasarkan riwayat-riwayat yang dikemukakan historiografi, bahwa Islam datang ke Nusantara berasal dari Arabia pada abad pertama Hijri atau pada abad ke 7 Masehi. Para ilmuan telah menyepakati ini pada seminar yang diselenggarakan pada 1969.  Azra menulis, teori ini mematahkan teori-teori yang menyebutkan Islam datang ke Nusantara berasal dari India dan Gujarat pada abad ke-12 atau 13 Masehi. [1]

Kedatangan Islam yang langsung dari Arabia, sebagaimana diungkap Marrison membantah teori sejumlah sarjana Belanda, yang memegang keyakinan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari anak benua India dan Gujarat. Bantahan Marrison ini didasarkan kepada fakta, bahwa pada sa’at Islamisasi Samudera Pasai, yang raja pertamanya yang wafat pada 698/1297, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah 1 tahun sesudahnya Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan Muslim. Dalam pandangannya, para pedagang Arab yang dominan dalam perdagangan Barat-Timur pada abad pertama Hijri atau abad 7 Masehi, juga menyebarkan Islam pada setiap daerah yang disinggahinya yang di antaranya adalah Nusantara.[2]

Teori Islam yang datang langsung Arabia juga dipegang oleh Crawfurd, serta Niemann dan de Hollander dengan sedikit merevisi pendapat Kejzer yang mengatakan Islam Nusantara datang dari Mesir dengan alasan kesamaan mazhab fiqih. Niemann dan Hollander berpandangan dan menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan datang dari Mesir, akan tetapi dari Hadhramawt. Teori ini juga dikuatkan oleh Naquib al-Attas.[3]

Berdasarkan pandangan para sejarawan di atas, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Islam ke Nusantara adalah pada abad 7 M / 1 H yang langsung datang dari Arabia, sedangkan konversi besar-besaran penduduk Nusantara berlangsung pada abad 13 M. Sebagaimana dijelaskan oleh Azra, A.H Johns mengemukakan dengan mempertimbangkan kecilnya kemungkinan bahwa para pedagang memainkan pengaruh besar dalam penyebaran Islam, ia mengajukan bahwa para sufi pengembaralah yang terutama melakukan penyebaran Islam dan berpengaruh besar terhadap Islamisasi besar-besaran penduduk Nusantara. Faktor utama keberhasilan para sufi ini adalah kemampuan para sufi menampilkan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontiniutas, ketimbang  perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal secara radikal.  [4]

Alasan yang dipakai Johns adalah banyaknya ditemukan sumber-sumber lokal yang mengaitkan pengenalan Islam ke kawasan ini dengan guru-guru pengembara dengan karakteristik sufi yang kental. Karakteristik mereka secara rinci adalah, “ Mereka adalah para penyiar (Islam) pengembara yang berkelana di seluruh dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela hidup dalam kemiskinan; mereka sering berkaitan dengan kelompok-kelompok dagang atau kerajinan tangan , sesuai dengan tarekat yang mereka anut; mereka mengajarkan teosofi sinkretik yang kompleks, yang umumnya dikenal baik orang-orang Indonesia,  yang mereka tempatkan ke bawah (ajaran Islam), (atau) yang merupakan pengembangan dari dogma-dogma pokok Islam; mereka menguasai ilmu magis, dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan; mereka siap memelihara kontiniutas dengan masa silam, dan menggunakan istilah-istilah dan unsur-unsur kebudayaan pra Islam dalam konteks Islam”. Johns menguatkan hujjahnya bahwa tarekat sufi tidak menjadi ciri dominan dalam perkembangan dunia Muslim sampai jatuhnya Bagdad ke tangan lascar Mongolia pada 656/1257. Sebagimana juga Gibb yang mencatat bahwa setelah kejatuhan Bagdad, kaum sufi memainkan peranan  kian penting dalam memelihara keutuhan dunia Muslim  dengan menghadapi tantangan kecenderungan pengepingan kawasan-kawasan kekhalifahan ke dalam wilayah-wilayah linguistic Arab, Persia, dan Turki. Adalah pada masa ini tarekat sufi secara bertahap menjadi intitusi yang stabil dan disiplin, dan mengembangkan afiliasi dengan kelompok-kelompok dagang dan kerajinan tangan (thawa’if) , yang turut membentuk masyarakat urban. Lebih awal perkiraan ini, Bulliet menyatakan bahwa pada abad ke 10 dan 11ketika Bagdad mengalami kemerosotan, tokoh-tokoh sufi banyak melakukan perpindahan dan pengembaraan ke berbagai wilayah yang ia kenal. Hal inilah yang diistilahkannya dengan kebangkitan para ulama akan kesadaran mereka tentan krusialnya peran mereka dalam menyebarkan dan memelihara keutuhan pengaruh Islam.[5]

Hodgson menyebutkan telah terjadinya internasionalisasi “universalisasi” Islam Sunni pada pada abad ke 11. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ulama Sunni Bagdad bagian barat yang melakukan pengembaraan. Lebih mencolok katanya, di Persia dalam periode yang sama, Persia kehilangan banyak ulama Sunni. Inilah yang menyebabkan bertumbuhnya Syi’ah di Persia. Migrasi ini ikut ambil andil besar dalam proses konversi besar penduduk yang mendiami anak benua India dan Eropah Timur dan Tenggara dan Nusantara pada abad 10 dan akhir abad 13.[6]

Dalam konteks Minangkabau, kedatangan Islam diperkirakan oleh para sejarawan juga sudah berlangsung mulai pada abad ke 7 M. Kedatangan ini melalui jalur timur sumatera atau Minangkabau Timur yang terhubung dengan selat Malaka. Sementara melalui jalur pantai barat sejarawan baru memperkirakan pada abad 16/17 M walaupun dibantah oleh beberapa ahli karena tidak sesuai dengan beberapa fakta yang diungkap oleh temuan penelitian para sejarawan.

Teori jalur timur didasarkan kepada intensifnya jalur perdagangan melalui sungai-sungai yang mengalir dari gugusan bukit barisan ke selat Malaka yang dilayari oleh para pedagang termasuk pedagang Arab untuk mendapatkan komoditi lada dan emas. Intensifnya jalur dagang ini malah dipandang sudah berlangsung berabad-abad bahkan sebelum kelahiran agama Islam. Pelayaran ke selat Malaka ditempuh melalui lembah Sinamar di sekitar Buo dan Sumpur Kudus, melintasi Silukah, Durian Gadang menuju sungai Indragiri atau melintasi Padang Sarai yang terletak di jalur anak sungai Kampar Kiri. [7] Perebutan monopoli perdagangan lada antara kekhalifahan Umayyah dan Dinasti T’ang mendorong pedagang-pedagang Muslim untuk mengambil langsung komoditi lada dari wilayah Minangkabau Timur.[8] Kesimpulan masuknya Islam ke Minangkabu pada abad ke 7 M ini juga lahir pada seminar masuknya Islam ke Minangkabau yang diadakan di Padang pada tahun 1969.[9] Sumber lain menyebutkan Pada tahun 100 Hijriyah (718 Masehi) Maharaja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada Khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya. Dalam surat itu tertulis:

" Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.". (Surat Maharaja Sriwijaya, Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz)[10].

Sumber di atas menggambarkan bahwa hubungan diplomatik Nusantara dengan Dinasti Umayyah sudah terjalin mulai dari abad ke 8 M atau bahkan sudah mulai dari abad ke 7 M.
Sebagaimana ditulis Mas’ud Abidin, awal abad ke-7 M atau abad I Hijriah rantau timur Minangkabau telah menerima dakwah Islam. Bahkan J.C. van Vanleur dalam bukunya Indonesian Trade & Socety (1955) menyatakan bahwa pada permulaan tahun 674 Pantai Barat Sumatera telah dihuni koloni Arab. [11]

Sedangkan asumsi masuknya Islam ke Minangkanau melalui pesisir barat didasari oleh intensifnya kegiatan perdagangan pantai barat Sumatera pada abad 16/ 17 M sebagai akibat dari kejatuhan Malaka ke tangan Portugis. Pada masa ini pengarug kekuasaan Aceh  Darussalam (pelanjut kekuasaan Samdera Pasai) sangat besar. Intensifnya perkembangan Islam pada masa inilah dinilai oleh beberapa kajian peneliti dijadikan sebagai dasar kajian masuknya Islam ke Minangkabau yang sering dihubungkan dengan Syekh Burhanuddin Ulakan ( 1066 H/ 1646 M – 1111 H/ 1691 M ) yang merupakan murid Syekh Abdurrauf Singkel. Burhanuddin Ulakan lakan belajar di Aceh kepada Abdurrauf selama 10 tahun. [12]

Syekh Burhanuddin Ulakan meninggal + dalam usia 45 tahun dan dipandang sebagai penggagas pendidikan dengan menjadikan Surau sebagai model dan sentralya. Dalam konteks peranan Burhanuddin Ulakan sebagai pembawa agama Islam ke Minangkabau ini, melalui fakta-fakta sejarah telah dibantah oleh Mahmud Yunus. Pertama, Mahmud Yunus mengemukakan alasan bahwa sebelum belajar di Aceh kepada Abdurrauf Singkel, Burhanuddin telah terlebih dahulu belajar di kampung halamannya kepada beberapa orang guru. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sudah berkembang sebelum Burhanuddin. Fakta kedua menjelaskan bahwa ada tiga muballig Minangkabau yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro pergi menyiarkan Islam ke Sulawesi pada tahun 1603 M yang pada saat itu Burhanuddin belum lahir. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam sudah berkembang di Mingkabau sebelum Burhanuddin. Berdasarkan ini, Mahmud Yunus berkesimpulan bahwa Burhanuddin Ulakan bukanlah pembawa Islam pertama ke Minangkabau, namun diakuinya bahwa Burhanuddin adalah orang yang pertama mendirikan lembaga pendidikan Surau secara teratur dan tersistem sebagaimana mengikuti pola dan sistem pendidikan gurunya Abdurrauf Singkel di Aceh.[13]

Ketiga, Mahmud Yunus juga mengungkapkan tentang adanya tokoh Burhanuddin di Kuntu Kampar Kiri yang wafat pada tahun 610 H/ 1191 M yang dipandang jauh lebih awal dari pada Burhanuddin Ulakan. Menurut Mahmud Yunus, Burhanuddin Kuntu mula-mula mengajar di Batu Hampar dan menetap di sana selama 10 tahun, kemudian pindah ke Kumpulan (dekat Bonjol) dan mentap selama 5 tahun, dari Kumpulan beliau pergi ke Ulakan Pariaman dan mengajar selama 15 tahun, sampai akhirnya pergi ke Kuntu Kampar dan mengajar selama 20 tahun sampai beliau meninggal pada tahun 1191 M dan dimakamkan di Kuntu.[14] Peranan Burhanuddin Kuntu ini dalam islamisasi kerajaan Pagaruyung juga diungkap oleh Imam Maulana Abdul Manaf dalam Kitab Muballigul Islam sebagaimana dikutip Irhash Shamad.[15]



[1]  Azra, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,  (Bandung: Penerbit Mizan, Cet II, 1994)
[2] Azra, ibid., Untuk menguatkan pendapatnya, Azra mengutip tulisan T.W. Arnold, The Preaching of Islam: A. History of the Propagation of the Muslim Faith, ( London: Constable, 1913)
[3] Sebagaimana dijelaskan oleh Azra, al-Attas beralasan bahwa adanya impor batu Nissan dari Gujarat ini lebih didasarkan karena dekatnya jarak geografir kedua daerah ini lebih dekat ketimbang Arabia. Lihat Azra,
[4]. Lihat Azra, Ibid.,  dan A.H. Johns, “Sufism as a category in Indonesion Literature and History:, JSEAH, 2, II, 1961 Lihat pula H.A.R Gibb, ´An Interpretation of Islamic History II”, MW,45,II, 1955, h. 130 dan R.W. Bulliet, “Conversion to Islam and the Emergence of a muslim Society in Iran”, dalam Levtzion (penj), Conversion to Islam
[5] Ibid
[6] Lihat Azra, op.cit.,h. 35-36, dan M.G.S. Hodgson, The Venture of Islam, II Chicago: University of Chicago Press, 1974, h. 1-368.
[7] Irhash A. Shamad dan Danil M. Chaniago, Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, (Jakarta: Tintamas, 2007),
[8] Mansoer, dkk., Sejarah Minangkabau, (Jakarta: Bhratara, 1970), h. 44-45
[9] Seminar diselenggarakan atas kerjasama Center for Minangkabau  Studies, LKAAM dan BKPUI di IAIN Imam Bonjol Padang yang dihadiri oleh 268 peserta. Peserta yang hadir di antaranya Hamka, Zakiyah Darajat, Mukti Ali, Sidi Gazalba, Ibrahim Buchari, Amura, M.O Parlindungan, Alfian, Zuber Usman, Muhammad Rajab, MD. Mansoer, dll. Lihat Irhash A. Shamad , op cit., h. 26
[10] Azyumardi Azra,  Islam in the Indonesian world: an account of institutional formation. Mizan Pustaka. 2006.
[11] Ketika itu Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah menyebarkan  agama Hindu ke Nusantara dari abad ke-7 hingga ke-13 M. Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaituMalayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya.  Masuknya Islam pada masa itu menimbulkan persaingan perdagangan sekaligus pengaruh untuk mengembangkan agama masing-masing. Sebagaimana pernah terjadi persaingan sengit antara angkatan Laut Sriwijaya dengan pedagang Islam di Malaka. Pedagang muslim Arab dan Parsi akhirnya menuju pesisir timur dan barat Sumatera. Kemudian akibat ‘perkawinan politik’ antara saudagar Islam dengan putri kerajaan setempat, maka terbentuklah kerajaan Islam Perlak dengan sultan pertamanya Syekh Maulana Abdul Aziz Syah  yang menganut Islam Syiah (840 M-888/913 M). Namun akhirnya di Perlak juga berkembang aliran Sunni. Sriwijaya kembali menyerang Perlak namun kemudian dimenangkan oleh Perlak. Setelah itu Perlak dipimpin oleh seorang Sunni yaitu Sultan Makhudum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan berdaulat (1006 M). Sriwijaya kemudian berhadapan dengan Kerajaan Darma Wangsa di Pulau Jawa, setelah itu dengan Majapahit, dan Majapahit menang sejak tahun 1477 M. Seluruh Pantai Timur Minang jatuh ke tangan Majapahit sampai akhirnya Majapahit lemah setelah raja Hayam Wuruk meninggal. Semenjak itu pula kerajaan Pagarruyung diperintah oleh Adityawarman. Sementara itu tahun 1400 Malaka dan Samudera Pasai, masing-masingnya menjadi kota dagang dan kerajaan Islam. Pengaruh Islam berkembang sampai ke Pantai Barat Minang. Akan tetapi, dinamika perkembangan dakwah Islamiyah agak lamban di sana, sebab sering terjadi pertentangan mazhab Syiah dengan Sunni di Aceh dan masalah perebutan Selat Malaka. Kemudian rantau Alam Minang sudah mulai didominasi pemeluk Islam. Sementara Yang Dipertuan Adityawarman masih memeluk Budha. Baca, Mas’ud Abidin, Piagam Sumpah Sati Bukik Marapalam, http://www.pandaisikek.net/  , (Download tgl. 30 September 2012).
[12] Irhash A. Shamad, ibid.,
[13] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979) cet. II.,
[14] Sebagai peninggalan Burhanuddin Kuntu, didapati sampai sekarang sebuah stempel dari tembaga dengan tulisan Arab, sebelah pedang, sebuah kitab yang bernama Fathul Wahab karangan Abi Yahya Zakaria Anshari. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Ibid.,. Pada sumber lain juga dijelaskan bahwa Burhanuddin Kuntu sebagaimana hasil penelitian Darusman yang dikutip Irhash Shamad diceritakan bahwa Burhanuddin Kuntu sering mengunjungi pemuka massyarakat untuk kepentingan dakwahnya. Diceritakan juga, mula-mula Burhanuddin Kuntu menetap di rumah seorang pemuka masyarakat yang bergelar Datuk Makhudum. lihat Irhash A. Shamad, Islam dan Praksis Kultural Masyarakat Minangkabau, op cit., Baca juga, Darusman, Syekh Burhanuddin dan Pengembangan Islam di Kuntu Kampar Kiri Abad XIII, (Skripsi), (Padang: Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN IB Padang, 1994),
                [15] Irhash Shamad, Islam.

Monday, December 7, 2015

Syi'ah: Hubungannya dengan bangsa Farsi (Iran)


Al-Maqrizi (al-Maqrizi: al-Khutat, juz 1, ms. 362) berkata sebagai berikut: "Bangsa Parsi dahulunya mempunyai kerajaan yang luas dan kekuasaan yang tinggi; mereka memandang bangsa Arab sebagai suatu bangsa yang tidak bererti.

Akan tetapi setelah kerajaan Parsi itu jatuh ke tangan bangsa Arab, berubahlah pandangan mereka. Mereka mengalami penderitaan yang berat dan berlipat-ganda. Mereka tidak sanggup melakukan konfrantasi fisikal. Sebab itu mereka beralih kepada tipudaya yang licik. Maka beberapa orang di antara mereka lalu berpura-pura masuk Islam.

Mereka berusaha merangkul penganut-penganut Syi'ah dengan cara memperlihatkan kecintaan mereka terhadap keluarga Nabi (Ahlulbait), dan mencela kezaliman-kezaliman yang dilakukan terhadap Ali. Sesudah itu mereka menggunakan bermacam-macam cara terhadap kaum Syi'ah ini, hingga akhirnya mereka dapat mengeluarkan golongan tersebut dari jalan yang benar.

Ibnu Abdi-Rabbih meriwayatkan ucapan as-Sya'bi sebagai berikut: "Kaum Rafidhah (alIqdul Farid, juz 4, ms. 303) adalah Yahudinya ummat ini. Mereka membenci Islam seperti orang-orang Yahudi membenci Agama Nasrani. Mereka memasuki Islam bukanlah kerana keinginan hati mereka dan bukan pula kerana rasa takut kepada Tuhan, melainkan hanyalah untuk mencelakakan dan membinasakan ummat Islam.

Saidinah Ali pernah membakar mereka dan membuang mereka ke negeri-negeri lain. Bencana kaum Rafidhah ini sama dengan bencana orang-orang Yahudi. Kalau orang-orang Yahudi berkata: "Raja hanyalah dari keluarga Daud," maka kaum Rafidhah pun berkata: "Raja hanyalah dari keluarga Ali bin Abu Talib."

Kalau orang-orang-orang Yahudi berkata: "Tidak ada kewajiban untuk berjihad fi sabilillah, kecuali kalau al-Masih al-Muntazar sudah keluar," maka kaum Rafidhah pun berkata: "Tidak ada kewajiban berjihad fi sabilillah, kecuali kalau al-Mahdi al-Muntazar sudah keluar." Kalau orang-orang Yahudi menghalalkan darah setiap orang Islam, maka Rafidhah pun demikian pula.

Dan kalau orang-orang Yahudi telah mengubah-ubah Kitab Taurat, maka orang-orang Rafidhah tidak sanggup mengubah nas-nas al-Quran, kerana itu mereka lantas mengadakan penafsiran yang dinamakan "penafsiran secara batin," dan mereka ubah makna-makna al-Quran itu. (alIqdul Farid, juz 4, ms. 409-410).

Ustaz Ahmad Amin (Ahmad Amin: Fajrul Islam, ms.276-277) berkata: "Sebenarnya, menjadi Syi'ah itu adalah merupakan tempat perlindungan bagi orang-orang yang ingin menghancurkan Islam disebabkan kerana rasa permusuhan atau kedengkian dan juga orang-orang yang ingin memasukkan ajaran-ajaran nenek-moyang mereka ke dalam ajaran-ajaran Islam, baik dari ajaran agama Yahudi, Nasrani, Zoroastrianism (Majusi) dan Hindu.

Begitu pula orang-orang yang ingin memerdekakan negeri mereka dan memberontak terhadap kekuasaan Islam. Mereka ini semuanya berkedok sebagai orang-orang yang menyintai "Ahlulbait" untuk menyembunyikan maksud-maksud jahat mereka.

Ajaran-ajaran Agama Yahudi telah timbul dalam kepercayaan Syi'ah dengan adanya pendapat tentang "raj'ah". Ini kerana kaum Syi'ah berkata: "Api neraka diharamkan atas penganut Syi'ah, kecuali hanya sebentar saja." Pendapat ini sesuai dengan kepercayaan orang-orang Yahudi yang mengatakan: "Api neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa hari saja."

Ajaran agama Nasrani pun muncul pula dalam kepercayaan Syi'ah, ternyata dalam ucapan segolongan mereka: "Nisbahnya Imam kepada Tuhan adalah sama dengan nisbahnya al-Masih kepada-Nya." Mereka juga berkata: "Lahut dan Nasut (ketuhan-an dan Kemanusiaan) telah bersatu dalam peribadi Imam. Kena-bian dan kerasulan tidaklah terputus selama-lamanya. Orang yang telah bersatu dengan Lahut adalah Nabi."

Begitu pula ajaran-ajaran agama Brahma, ajaran-ajaran ahli-ahli falsafah dan Agama Majusi sebelum Islam, telah muncul pula dalam karangan Syi'ah; misalnya kepercayaan tentang reinkarnasi, pertubuhan Tuhan, serta bertempatnya roh Tuhan pada diri seseorang dan kepercayaan-kepercayaan lainnya yang terkenal dalam agama-agama tersebut."

Nota. Rafidhah adalah salah satu sebutan yang dipakaikan kepada kaum Syi'ah. Kata orang, Zaid bin Ali yang mula-mula menyebut kaum Syi'ah itu dengan Rafidhah, lantaran mereka itu menolak untuk membantunya. Pendapat lain mengatakan, mereka itu dinamakan Rafidhah ialah kerana mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Adapun orang-orang yang mengutamakan Ali daripada Usman, akan tetapi mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar, mereka inilah yang disebut Syi'ah. (Lihat al-Iqdul Farid, juz 4, ms.404).


Sunday, December 6, 2015

Misteri Peribadi Para Khalifah Bani Umaiyah

Pandangan ahlisejarah, terutama dari golongan kaum Muslimin sendiri, terhadap kemurahan-hati, cinta-damai dan kelapangan-dada yang telah dikenal pada peribadi pahlawan-pahlawan seumpama Mu'a-wiyah, Abdul Malik, al-Walid dan Umar bin Abdul Aziz. Begitu pula, perlu dingatkan bahawa usaha-usaha penyebaran Islam yang telah dilaksanakan mereka dengan baik, baik sebagai penakluk-penakluk, guru-guru atau mubaligh-mubaligh. Tiga orang pertama yang tersebut di atas itu telah berjasa untuk memanjangkan bendera Islam di berbagai daerah, sehingga ia berkibar dengan megahnya di daerah yang demikian luasnya, menaungi berjuta-juta, bahkan beratus-ratus juta umat manusia. Sedangkan yang keempat, iaitu Umar bin Abdul Aziz, dengan sifat-sifat keutamaan dan cinta-damai yang dimilikinya, telah berhasil menarik mereka yang berjuta-juta masuk ke dalam Agama Islam. Atau katakanlah, bahawa mereka dengan keinsafan sendiri telah menggabungkan diri kepada Agama Islam yang telah mencipta Khalifah-Khalifah yang jarang tolok bandingannya itu. Memang benar bahawa daerah Andalusia yang telah ditaklukkan Bani Umaiyah kemudiannya terlepas dari tangan kaum Muslimin, tetapi hal ini tidaklah terjadi pada masa pemerintahan Bani Umaiyah itu. Yang bertanggungjawab atas hilangnya daerah itu adalah mereka yang memegang pemerintahan berikutnya.

Inilah sinar terang yang kita gunakan untuk memulai perbahasan ini, yang kita maksudkan untuk membenarkan yang benar, dan untuk mengingatkannya kepada orang-orang yang belum menginsafinya selama ini. Iaitu mereka yang hanya melakukan perbahasan-perbahasan menurut aliran yang telah digariskan orang-orang lain yang terdahulu, tanpa memikirkan benar atau tidaknya, tanpa adanya kesedaran fikiran untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar. Dan kita pada masa ini, dalam kehidupan keislaman kita sangatlah memerlukan suatu pemerintahan Bani Umaiyah, yang akan dapat mewujudkan kembali "Persatuan Alam Islami" dan menggalang kekuatan yang maha-dahsyat yang dulunya pernah menggentarkan kerajaan-kerajaan yang terbesar di masa itu. Dan selanjutnya kita meneruskan perbahasan kita ini di bawah sinar terang yang tersebut di atas itu, tanpa menaruh rasa permusuhan terhadap Bani Umaiyah dan tidak pula bertindak sebagai pembela-pembela mereka, tetapi adalah sebagai orang yang berusaha mencari yang benar, walau bagaimanapun juga banyaknya kesulitan-kesulitan yang kita hadapi untuk mencapai tujuan itu. Dan apabila nanti kita menemukan sesuatu yang benar maka dengan gembira akan kita cantumkan, tanpa menoleh lagi kepada yang lainnya.

Apa-apa yang kita sebutkan dalam kata pendahuluan ini, menyebabkan kita harus mengeritik dengan tuntas terhadap kritikan Nicolson dalam bukunya A Literacy of the Arab, (ms. 139) bahawa

"kaum Muslimin menganggap kemenangan Bani Umaiyah di bawah pimpinan Mu'awiyah itu sebagai kemenangan Aristokratis-Wasaniyah yang telah memerangi Rasulullah dan para sahabatnya, dan yang telah ditumpas oleh Rasulullah dalam perjuangan yang memakan waktu yang lama, sampai mereka bertekuk-lutut di bawah kekuasaannya".

Kita sungguh tidak mengerti, kaum Muslimin manakah yang dimaksudkan oleh Nicolson ini. Adapun yang dituturkan dengan tegas oleh sejarah ialah, bahawa dalam masa pertarungan antara Ali dan Mu'awiyah, kekuatan Mu'awiyah semakin hari semakin bertambah kokoh, dan sebaliknya, pihak Ali semakin lemah. Dan banyak di antara tokoh-tokoh kaum Muslimin datang berpihak kepada Mu'awiyah dan memberi sokongan kepadanya, setelah mereka saksikan kemenangan Mu'awiyah semakin nyata, sedang dalam kalangan pengikut-pengikut Ali telah terjadi kekacauan dan pembangkangan terhadapnya, sehingga tidaklah menghairankan bahawa sesudah wafatnya Ali semua kaum Muslimin telah bergabung kepada Mu'awiyah. Dan Mu'awiyah sendiri pernah menjelaskan sebab-sebab kemenangannya itu, antara lain ialah: kerana ia lebih akrab kepada Quraisy, dibanding dengan Ali. Dan ini adalah suatu hal yang benar, yang cukup jelas, hampir bagi semua orang yang mengadakan penyelidikan dalam Sejarah Islam. Mu'awiyah berkata: Ada empat macam faktor yang telah menolong untuk mengalahkan Ali.

Pertama: Aku senantiasa menyembunyikan rahsia, sedang Ali suka membukakan rahsianya.

Kedua: Aku mempunyai tentera yang terbaik dan amat patuh, sedang Ali mempunyai tentera yang paling jelek dan amat pembangkang.

Ketiga: Aku biarkan ia bertempur melawan pasukan Aisyah yang menunggang unta, dan aku berkata dalam hatiku: Jika mereka dapat mengalahkan Ali, sudah barang tentu bagiku lebih mudah untuk mengalahkan mereka, dan jika Ali dapat mengalahkan mereka aku akan menuduhnya sebagai pembunuh mereka.

Keempat: Aku lebih dicintai oleh orang-orang Quraisy dari-pada Ali.

Pendapat dari al-Khudhari mengenai peribadi Ali bahawa ia bukanlah seorang yang disenangi oleh para pemimpin di masanya, kerana ia mengabaikan musyawarah dan ia terlalu percaya akan dirinya. Ustaz al-Khudhari menutup uraiannya dalam masalah tersebut dengan ucapannya bahawa:

"Sebab yang terutama dari tidak-stabil-nya keadaan di masa pemerintahan Ali, ialah kerana ia terlalu percaya kepada dirinya dan memandang hanya pendapatnya sajalah yang benar. Jarang atau hampir tak ada dia bermusyawarah dengan orang-orang besar Quraisy dalam urusan penting sekali-pun. Malah terhadap beberapa orang-orang besar Quraisy itu ia terlampau keras.

Dan akhirnya al-Khudhari memberikan suatu perbandingan antara kekerasan Khalifah Umar dan keke-rasan Ali, katanya:

“Umar memang bersikap keras, tetapi seluruh rakyat menyokongnya dan Ali bersikap keras pula, tetapi sebahagian besar rakyat menentangnya”.

al-Khudhari (dlm Tarikhul Umum al-Islamiyah)

Nampaknya Nicolson mengemukakan pendapatnya yang dangkal iaitu dengan berpegang pada kenyataan bahawa Bani Umaiyah itu sudah terlambat masuk Agama Islam. Tetapi hal ini tidaklah dapat dijadikan ukuran yang benar. Khalifah Umar pun lebih kemudian masuk Islamnya daripada Usman, Saad, Talhah, dan Zubir............, tetapi tak seorang pun di antara mereka itu dapat melebihi Umar tentang kekuatan Islamnya. Dan kaum Muslimin semuanya, termasuk Rasulullah sendiri merasa bertambah kuat dengan masuk Islamnya Abu Sufyan, Rasulullah pernah memberikan kehormatan yang tinggi kepada Abu Sufyan dengan menunjuk rumahnya sebagai suatu "haram", dimana orang-orang boleh mendapatkan keamanan dan ketenteraman.



Thursday, December 3, 2015

Khilafah Umawiyah: Kekeliruan sejarah (III)

Misteri Khilafah Bani Umawiyah
Sebagaimana yang kita bincangkan di ruangan yang lepas, antara kesalahan khalifah-khalifah Bani Umayyah adalah mencaci maki Saidinah Ali bin Abu Talib di masa hidup dan sesudah kematian beliau. Jika kita boleh meninjau persoalan ini dari segi politik, maka kita ingin menyebutkan di sini bahwa Bani Umaiyah terpaksa melakukan tindakan-tindakan itu, untuk membelokkan rakyat umum dari pemujaan terhadap keluarga Ali, yang semata-mata hanya berdasar kepada kedudukan orang-orang itu sebagai "Ahlilbait" atau "Keluarga Rasulullah", tidak lebih dari itu! Maka alasan Bani Umaiyah mencaci Ali, dan dengan menumpahkan kepadanya segala kekurangan-kekurangan, demi untuk menjaga keselamatan pemerintahan mereka. Umar bin Abdul Aziz, salah seorang dari Khalifah-Khalifah besar Bani Umaiyah, pernah menjelaskan hal ini dalam percakapannya dengan bapanya yang bernama Abdul Aziz bin Marwan. Umar berkata:

"Ayahku Abdul Aziz bin Marwan, bila berpidato amatlah lancar dan lantang suaranya, tetapi bila ia hendak menyebut nama Amirul-Mu'minin — Ali bin Abu Talib — dalam pidatonya, ia terpegun-pegun. Aku tanyakan kepadanya tentang hal itu, ia menjawab: "Anakku, rupanya engkau perhatikan keadaanku?" Aku jawab: "Ya!" Lalu ia berkata: "Anakku, kau harus tahu, bahawa rakyat umum, seandainya mereka mengenal Ali itu sebagaimana yang kita kenal, nescaya mereka semua akan meninggalkan kita dan akan berpihak kepada puteranya".

 (Ibnu Tabatiba: al-Fakri, ms 110-111 dlm Ahmad Shalaby, 1975).

Di sini teranglah bahwa caci-maki yang dilancarkan Bani Umaiyah kepada Ali itu hanyalah untuk "mengubati" rakyat umum. Kita percaya bahwa seorang yang meninggalkan Mu'awiyah dan berpihak kepada Ali, dapat mengemukakan alasan-alasan untuk membenarkan tindakan itu. Tetapi kenyataannya, rakyat umum meninggalkan Mu'awiyah dan bergabung kepada putera Ali bukanlah kerana kecekapan yang dimilikinya, dan bukan pula kerana keunggulannya dalam bidang politik atau di medan perang, tapi hanya semata-mata kerana dia putera Ali! Tidak lebih dari itu. Dan sentimen rakyat umum inilah yang mendorong Bani Umaiyah untuk mencaci Ali dan menumpahkan segala keburukan kepadanya, walaupun besar kemungkinan bahawa hati-nurani sendiri mengingkari perkara-perkara itu.


Yang menyebabkan kita berusaha mencarikan alasan semacam itu untuk Mu'awiyah dalam sikapnya mencaci Ali itu adalah kenyataan bahawa Mu'awiyah itu terkenal sebagai orang yang lapang-hati, penyantun dan suka memberi maaf. Dan kelapangan-hatinya ini telah terbukti pada sikapnya terhadap Amru Ibnul-As sehingga ia telah merangkul Amru ke pihaknya. Pada hal hubungan antara Mu'awiyah dan Amru ini bukanlah hubungan yang mesra. Begitu juga Mu'awiyah telah memperlihatkan kelapangan-hatinya itu terhadap Ziyad bin Abihi, padahal Ziyad ini dulunya salah seorang dari pengikut-pengikut Ali yang setia dan sangat benci kepada Mu'awiyah. Setelah Ali meninggal, Mu'awiyah memberikan jaminan keamanan dan pengampunan untuk Ziyad dan bahkan ia berusaha mengambil hatinya. Selain itu Mu'awiyah juga telah menunjukkan kemurahan-hatinya kepada al-Mughirah bin Syu'bah yang telah menjauhkan diri dari kekacauan. Begitu pula terhadap Marwan Ibnul-Hakam yang pernah memberikan bai'ah (sumpah-setia) untuk pengangkatan Ali menjadi Khalifah. Akhirnya begitu pula terhadap yang lain-lainnya, seperti putera-putera Ali: Hasan dan Husain, sehingga mereka ini tidak pernah mengalami hal-hal yang tidak baik di masa hidup Mu'awiyah dan Mu'awiyah tidak pernah mengurangi sedikitpun jua apa-apa yang telah dijanjikannya kepada mereka. Jadinya faktor yang mendorong Mu'awiyah melanjutkannya sikapnya mencaci Ali itu ialah keinginannya hen-dak memperkokoh kekuasaannya dengan mengalihkan perhatian rakyat umum dari Ali dan putera-puteranya.

Wednesday, December 2, 2015

Khilafah Umawiyah: Kekeliruan sejarah (II)

Terdapat berbagai kebaikan yang disumbangkan dari pemikiran golongan Bani Umaiyah, seperti dinas-pos, alat pencetak wang, pejabat-pejabat arabisasi, organisasi tentera dan lain-lainnya. Begitu juga dengan kemenangan-kemenangan yang mereka lakukan dalam rangka mempertahankan dan membela Islam, yang semuanya itu masih terang dan jelas dan dari asas-asas lainnya yang akan kita jadikan pegangan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya.

Bani Umaiyah telah dituduh sebagai "Penguasa-penguasa Arab", bukan "Penguasa-penguasa Islam". Yang menjadi alasan mereka dalam tuduhan ini ialah bahawa Bani Umaiyah itu telah melakukan penindasan dan penganiayaan terhadap kaum Muslimin yang bukan bangsa Arab. Anehnya, di antara ahli-ahli-sejarah di Eropah ada pula yang tertarik kepada pendapat tersebut; misalnya Wellhausen dari Jerman (dalam Hawting, 1989). Tetapi tuduhan itu ternyata lemah bila kita uji dengan kritikan yang jujur dan perbahasan yang mendalam. Keadaan yang sebenarnya ialah: bahawa bangsa Parsi — yang bukan bangsa Arab itu — telah menggabungkan diri kepada Saidinah Ali sejak di awal permulaan persengketaan, dan mereka memerangi pasukan-pasukan Mu'awiyah. Kemudian mereka menimbulkan banyak kekacauan-kekacauan dan kerosakan dan mengobarkan api peperangan terhadap Bani Umaiyah. Perbuatan mereka ini sudah tentu menimbulkan kemarahan golongan Bani Umaiyah kepada mereka.

Maka masalah yang sebenarnya tidaklah lebih daripada tindakan untuk mempertahankan diri dan rasa saling membenci antara bangsa Parsi dan Bani Umaiyah. Di Syria sendiri, yang merupakan markas dan tempat lahirnya Khilafah Umawiyah, pada masa itu banyak kaum Muslimin yang bukan bangsa Arab. Begitu juga di Mesir dan di Afrika Utara. Tetapi mereka ini tidak pernah mengalami kemarahan Bani Umaiyah seperti yang dialami bangsa Parsi yang telah memulai permusuhan terhadap mereka dan senantiasa mencari-cari jalan untuk mengobar-ngobarkan api permusuhan.

Salah satu kesalahan yang dilakukan Bani Umaiyah ialah bahwa mereka telah mencaci Ali bin Abu Talib pada masa hidupnya. Dan setelah ia meninggal, mereka terus juga melakukan perbuatan yang mungkar ini  (Ahmad Shalaby, 1975; Hamka, 1961). Keadaan ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa Mu'awiyah tak dapat berlapang dada untuk menghentikan caciannya terhadap musuhnya yang telah meninggal itu? Di sini kebanyakan ahli sejarah yang tidak memihak pada mana-mana golongan berpendapat bahawa perkara ini, — walaupun dapat dianggap sebagai aib peribadi — namun tidaklah mengurangi kebaikan Mu'awiyah (Ahmad Shalaby, 1975), atau pahlawan-pahlawan Bani Umaiyah lainnya dan tidak pula akan menurunkan nilai mereka sebagai pahlawan-pahlawan perang dan ahli-ahlipolitik yang terkemuka.

Rujukan
Ahmad Shalaby. (1975). Sejarah dan Kebudayaan Islam II. Singapura: Pustaka Nasional Pte LtD.
Hamka. (1961). Sejarah Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte LtD.
Hawting, G. . (1989). The History of al-Tabari (Translated and Annotated). State University of New York Press. Albany.

Tuesday, December 1, 2015

Khilafah Bani Umayyah (41H – 132 H): Kekeliruan Sejarah (I)

DENGAN nama Allah yang Mahatinggi dan Mahabesar, kita mulai perbahasan tentang sejarah Khilafah Umayyah, serta gerakan-gerakan yang berhubungan dengan alam fikiran dan gerakan-gerakan revolusi yang terjadi pada masa itu. Kita menyedari bahawa kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh setiap orang yang sedang mengadakan perbahasan tentang sejarah di zaman Bani Umayyah. Banyak faktor yang disengajakan atau tidak telah menyebabkan merosotnya nilai sejarah Bani Umaiyah. Hampir semua buku-buku sejarah yang ada pada masa kini sangat kurang pujian dan sanjungan terhadap sebahagian besar khalifah-khalifah yang pernah berkuasa dalam Daulah Umayyah itu. Tetapi sebaliknya, dalam kebanyakan buku-buku tersebut terdapat tuduhan-tuduhan dan kecaman-kecaman terhadap mereka dengan panjang-lebar dan dalam buku-buku yang lain pula agak sederhana. Yang paling lunak di antaranya hanya membatasi penulisan mereka dengan sekadar menyebutkan celaan-celaan sahaja.

Apakah gerangan yang menyebabkan timbulnya keadaan semacam itu? Dan bagaimanakah caranya supaya kita dapat menyingkapkan keadaan yang sebenarnya?

Jawabnya ialah: Bani Umaiyah sering terpaksa melawan kelompok Bani Hasyim. Mu'awiyah misalnya, terpaksa berjuang melawan Ali, dan ia telah berhasil mencapai kemenangan. Yazid, putera Mu'awiyah, berjuang melawan Husain, putera Ali, dan akhirnya Husain tewas. Begitu pula cucu Husain, iaitu Zaid bin Ali, bersama puteranya yang bernama Yahya, telah tewas dalam pertempuran-pertempuran melawan pasukan Bani Umaiyah. Tetesan darah mereka besar pengaruhnya kepada para ahli-riwayat dan para penulis buku-buku sejarah. Ahli-ahli-riwayat dan penulis-penulis sejarah dari golongan Syi'ah umpamanya, dengan keras menyatakan kemarahan terhadap Bani Umaiyah, dan mereka gambarkan Bani Umaiyah itu sebagai manusia-manusia yang kasar dan buas.

Adapun ahli-ahli sejarah di luar golongan Syi'ah, tidaklah berpendapat seperti itu. Akan tetapi mereka berusaha sedapat mungkin untuk tidak menyinggung perasaan umum. Mereka lebih mengutamakan keselamatan diri. Sebab itu mereka menghindari pembicaraan-pembicaraan mengenai masalah tersebut di atas, atau kalau membicarakannya hanyalah sepintas lalu saja.

Tidak dapat dibantah bahawa situasi akan berbeza samasekali seandainya tuduhan memberikan perlindungan kepada pembunuh-pembunuh Khalifah Usman dan kemudian membentuk tentera dari mereka ini, dilemparkan oleh Mu'awiyah kepada orang lain, bukan kepada Ali. Begitu juga seandainya Yazid bin Mu'awiyah dulunya tidak memusuhi dan menewaskan Husain bin Ali. Jadi sebenarnya masalah ini bukanlah merupakan suatu kesalahan besar dalam sejarah. Soalnya ialah keinginan suatu golongan untuk mengambil keuntungan dari tetesan darah Ah/ilbait (keluarga Rasulullah) itu. Orang-orang Syi'ah atau penganjur-penganjurnya telah menggunakan peristiwa itu sebagai senjata untuk merangsang pendapat umum terhadap Bani Umaiyah. Di masa itu orang-orang Syi'ah ini sering menjadi gerombolan-gerombolan yang menimbulkan huruhara dan mencetuskan pemberontakan-pemberontakan, walaupun mereka ini sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah samasekali dengan Ali dan anakcucunya. Malah seringkali orang-orang inilah yang menipu dan mengkhianati Ali dan keturunannya atau kata-kanlah: orang-orang Syi'ah inilah sebenarnya yang telah membunuh mereka dengan pedangnya, dan setiapkali mereka selesai membunuh, mereka pura-pura meratapi si korban, dan menuntut bela atas kematiannya itu.

Gerombolan pengacau yang serupa ini amatlah ditakuti dan telah menyebabkan gentarnya para ahliriwayat sehingga mereka tidak berani meriwayatkan apa yang sebenarnya dapat mereka riwayatkan tentang kejayaan Bani Umaiyah. Demikian pula hal-nya dengan para penulis sejarah. Merekapun merasa takut, sehingga tidak berani menuliskan keterangan-keterangan ahli riwayat yang telah sampai kepada mereka. Dengan demikian hilang-lenyaplah sejarah dalam kegelapan yang ditimbulkan oleh kezaliman orang-orang yang menamakan diri mereka Syi'ah Ahlilbait padahal mereka itu sebenarnya merupakan musuh yang paling jahat terhadap Ahlilbait dan juga terhadap Islam.
Sebelum fakta-fakta sejarah itu sempat dituliskan, Daulah Umawiyah telah runtuh. Di atas puing-puing keruntuhannya itu berdirilah Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah telah mengikis sisa-sisa kejayaan Bani Umaiyah yang masih ada. Malah mereka telah melakukan hal-hal yang menambah gelap dan buruknya sejarah Bani Umaiyah itu.

Tak dapat dibantah bahwa pada hakikatnya orang-orang Alawiyin — iaitu pengikut-pengikut Ali r.a. — lebih banyak menderita di bawah penindasan Bani Abbas dibanding kepada penderitaan yang mereka alami kerana tindakan-tindakan Bani Umaiyah. Akan tetapi fakta-fakta itu tidak tercatat dengan sempurna dalam sejarah, kerana Daulah Abbasiyah itu telah diberkati dengan umur panjang, dan di masa kekuasaan mereka pulalah baru dimulainya pembukuan sejarah. Sebab itu, apa-apa yang ditulis oleh ahli-ahlisejarah di masa itu terang terpengaruh oleh kekuasaan Bani Abbas.

Yazid bin Mu'awiyah telah dituduh sebagai seorang yang bodoh dan jahat perangai. Begitu pula Yazid bin Abdul Malik dan puteranya yang bernama al-Walid. Tetapi tanpa ragu-ragu bahawa ada berpuluh-puluh orang di antara Khalifah-Khalifah Abbasiyin dan Fatimiyin yang sama bodoh dan jahat perangainya juga. Dalam pada itu sejarah telah menutupi banyak di antara keburukan-keburukan mereka. Ahli-ahli sejarah di masa itu telah menumpahkan segala kekurangan-kekurangan tersebut kepada Bani Umaiyah dengan cara mencari-cari ke sana-sini sebab-sebab kekurangan itu.

Kalau di sini kita tidak mengemukakan Khalifah-Khalifah Bani Umaiyah yang dianggap sebagai orang-orang yang lemah dan orang-orang semacam itu pada hakikatnya selalu ada dalam tiap-tiap negara manapun jua — namun di sini kita akan menyebutkan nama beberapa orang Khalifah Bani Umaiyah yang dapat diletakkan pada taraf yang tertinggi, sejajar dengan nama ahli-ahli politik ulung di seluruh dunia, yang telah muncul pada tiap-tiap masa sejarah. Tanpa ragu-ragu, kita cantumkan di antara nama-nama itu: Mu'awiyah, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz, serta beberapa orang Khalifah Bani Umaiyah yang pernah memegang kekuasaan di Andalusia. Dan tanpa ragu-ragu pula, kita dapat menegaskan bahwa amat sedikitlah jumlah Khalifah-Khalifah Abbasiyin, Fatimiyin dan Adarisah (Idrisyah), yang dapat menandingi Khalifah-Khalifah Bani Umaiyah yang kita sebutkan di atas.

Yang anehnya bahawa ahli-ahli sejarah pada zaman kita ini, baik dari golongan kaum Muslimin sendiri, ataupun dari puak orientalis, menerima apa-apa yang ditulis oleh sejarah zaman dahulu itu sebagai fakta-fakta yang benar. Sebab itulah pembahasan-pembahasan sejarah yang dilakukan pada zaman moden ini kebanyakannya sangat jauh dari rasa keadilan. Sepatutnya sejarah Bani Umaiyah ini ditinjau kembali dan diulang menulisnya. Penulisannya harus berdasarkan kepada fakta-fakta yang benar, yang dapat dicari dan dilihat pada bekas-bekas peradaban dan kebudayaan yang ditinggalkan oleh Bani Umaiyah disaksikan di Damaskus (Damsyik) dan lain-lain ibukota negara-negara Islam di Andalusia (Sepanyol).