Tuesday, December 1, 2015

Khilafah Bani Umayyah (41H – 132 H): Kekeliruan Sejarah (I)

DENGAN nama Allah yang Mahatinggi dan Mahabesar, kita mulai perbahasan tentang sejarah Khilafah Umayyah, serta gerakan-gerakan yang berhubungan dengan alam fikiran dan gerakan-gerakan revolusi yang terjadi pada masa itu. Kita menyedari bahawa kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh setiap orang yang sedang mengadakan perbahasan tentang sejarah di zaman Bani Umayyah. Banyak faktor yang disengajakan atau tidak telah menyebabkan merosotnya nilai sejarah Bani Umaiyah. Hampir semua buku-buku sejarah yang ada pada masa kini sangat kurang pujian dan sanjungan terhadap sebahagian besar khalifah-khalifah yang pernah berkuasa dalam Daulah Umayyah itu. Tetapi sebaliknya, dalam kebanyakan buku-buku tersebut terdapat tuduhan-tuduhan dan kecaman-kecaman terhadap mereka dengan panjang-lebar dan dalam buku-buku yang lain pula agak sederhana. Yang paling lunak di antaranya hanya membatasi penulisan mereka dengan sekadar menyebutkan celaan-celaan sahaja.

Apakah gerangan yang menyebabkan timbulnya keadaan semacam itu? Dan bagaimanakah caranya supaya kita dapat menyingkapkan keadaan yang sebenarnya?

Jawabnya ialah: Bani Umaiyah sering terpaksa melawan kelompok Bani Hasyim. Mu'awiyah misalnya, terpaksa berjuang melawan Ali, dan ia telah berhasil mencapai kemenangan. Yazid, putera Mu'awiyah, berjuang melawan Husain, putera Ali, dan akhirnya Husain tewas. Begitu pula cucu Husain, iaitu Zaid bin Ali, bersama puteranya yang bernama Yahya, telah tewas dalam pertempuran-pertempuran melawan pasukan Bani Umaiyah. Tetesan darah mereka besar pengaruhnya kepada para ahli-riwayat dan para penulis buku-buku sejarah. Ahli-ahli-riwayat dan penulis-penulis sejarah dari golongan Syi'ah umpamanya, dengan keras menyatakan kemarahan terhadap Bani Umaiyah, dan mereka gambarkan Bani Umaiyah itu sebagai manusia-manusia yang kasar dan buas.

Adapun ahli-ahli sejarah di luar golongan Syi'ah, tidaklah berpendapat seperti itu. Akan tetapi mereka berusaha sedapat mungkin untuk tidak menyinggung perasaan umum. Mereka lebih mengutamakan keselamatan diri. Sebab itu mereka menghindari pembicaraan-pembicaraan mengenai masalah tersebut di atas, atau kalau membicarakannya hanyalah sepintas lalu saja.

Tidak dapat dibantah bahawa situasi akan berbeza samasekali seandainya tuduhan memberikan perlindungan kepada pembunuh-pembunuh Khalifah Usman dan kemudian membentuk tentera dari mereka ini, dilemparkan oleh Mu'awiyah kepada orang lain, bukan kepada Ali. Begitu juga seandainya Yazid bin Mu'awiyah dulunya tidak memusuhi dan menewaskan Husain bin Ali. Jadi sebenarnya masalah ini bukanlah merupakan suatu kesalahan besar dalam sejarah. Soalnya ialah keinginan suatu golongan untuk mengambil keuntungan dari tetesan darah Ah/ilbait (keluarga Rasulullah) itu. Orang-orang Syi'ah atau penganjur-penganjurnya telah menggunakan peristiwa itu sebagai senjata untuk merangsang pendapat umum terhadap Bani Umaiyah. Di masa itu orang-orang Syi'ah ini sering menjadi gerombolan-gerombolan yang menimbulkan huruhara dan mencetuskan pemberontakan-pemberontakan, walaupun mereka ini sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah samasekali dengan Ali dan anakcucunya. Malah seringkali orang-orang inilah yang menipu dan mengkhianati Ali dan keturunannya atau kata-kanlah: orang-orang Syi'ah inilah sebenarnya yang telah membunuh mereka dengan pedangnya, dan setiapkali mereka selesai membunuh, mereka pura-pura meratapi si korban, dan menuntut bela atas kematiannya itu.

Gerombolan pengacau yang serupa ini amatlah ditakuti dan telah menyebabkan gentarnya para ahliriwayat sehingga mereka tidak berani meriwayatkan apa yang sebenarnya dapat mereka riwayatkan tentang kejayaan Bani Umaiyah. Demikian pula hal-nya dengan para penulis sejarah. Merekapun merasa takut, sehingga tidak berani menuliskan keterangan-keterangan ahli riwayat yang telah sampai kepada mereka. Dengan demikian hilang-lenyaplah sejarah dalam kegelapan yang ditimbulkan oleh kezaliman orang-orang yang menamakan diri mereka Syi'ah Ahlilbait padahal mereka itu sebenarnya merupakan musuh yang paling jahat terhadap Ahlilbait dan juga terhadap Islam.
Sebelum fakta-fakta sejarah itu sempat dituliskan, Daulah Umawiyah telah runtuh. Di atas puing-puing keruntuhannya itu berdirilah Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah telah mengikis sisa-sisa kejayaan Bani Umaiyah yang masih ada. Malah mereka telah melakukan hal-hal yang menambah gelap dan buruknya sejarah Bani Umaiyah itu.

Tak dapat dibantah bahwa pada hakikatnya orang-orang Alawiyin — iaitu pengikut-pengikut Ali r.a. — lebih banyak menderita di bawah penindasan Bani Abbas dibanding kepada penderitaan yang mereka alami kerana tindakan-tindakan Bani Umaiyah. Akan tetapi fakta-fakta itu tidak tercatat dengan sempurna dalam sejarah, kerana Daulah Abbasiyah itu telah diberkati dengan umur panjang, dan di masa kekuasaan mereka pulalah baru dimulainya pembukuan sejarah. Sebab itu, apa-apa yang ditulis oleh ahli-ahlisejarah di masa itu terang terpengaruh oleh kekuasaan Bani Abbas.

Yazid bin Mu'awiyah telah dituduh sebagai seorang yang bodoh dan jahat perangai. Begitu pula Yazid bin Abdul Malik dan puteranya yang bernama al-Walid. Tetapi tanpa ragu-ragu bahawa ada berpuluh-puluh orang di antara Khalifah-Khalifah Abbasiyin dan Fatimiyin yang sama bodoh dan jahat perangainya juga. Dalam pada itu sejarah telah menutupi banyak di antara keburukan-keburukan mereka. Ahli-ahli sejarah di masa itu telah menumpahkan segala kekurangan-kekurangan tersebut kepada Bani Umaiyah dengan cara mencari-cari ke sana-sini sebab-sebab kekurangan itu.

Kalau di sini kita tidak mengemukakan Khalifah-Khalifah Bani Umaiyah yang dianggap sebagai orang-orang yang lemah dan orang-orang semacam itu pada hakikatnya selalu ada dalam tiap-tiap negara manapun jua — namun di sini kita akan menyebutkan nama beberapa orang Khalifah Bani Umaiyah yang dapat diletakkan pada taraf yang tertinggi, sejajar dengan nama ahli-ahli politik ulung di seluruh dunia, yang telah muncul pada tiap-tiap masa sejarah. Tanpa ragu-ragu, kita cantumkan di antara nama-nama itu: Mu'awiyah, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz, serta beberapa orang Khalifah Bani Umaiyah yang pernah memegang kekuasaan di Andalusia. Dan tanpa ragu-ragu pula, kita dapat menegaskan bahwa amat sedikitlah jumlah Khalifah-Khalifah Abbasiyin, Fatimiyin dan Adarisah (Idrisyah), yang dapat menandingi Khalifah-Khalifah Bani Umaiyah yang kita sebutkan di atas.

Yang anehnya bahawa ahli-ahli sejarah pada zaman kita ini, baik dari golongan kaum Muslimin sendiri, ataupun dari puak orientalis, menerima apa-apa yang ditulis oleh sejarah zaman dahulu itu sebagai fakta-fakta yang benar. Sebab itulah pembahasan-pembahasan sejarah yang dilakukan pada zaman moden ini kebanyakannya sangat jauh dari rasa keadilan. Sepatutnya sejarah Bani Umaiyah ini ditinjau kembali dan diulang menulisnya. Penulisannya harus berdasarkan kepada fakta-fakta yang benar, yang dapat dicari dan dilihat pada bekas-bekas peradaban dan kebudayaan yang ditinggalkan oleh Bani Umaiyah disaksikan di Damaskus (Damsyik) dan lain-lain ibukota negara-negara Islam di Andalusia (Sepanyol).

No comments: